Rabu, 05 Oktober 2011

Skripsi (Triyo Rachmadi, S.Kep.)

HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)

TENTANG PENGOBATAN TB PARU JENIS FIXED DOSE COMBINATION (FDC) DENGAN KEPATUHAN PASIEN

BEROBAT DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS KLIRONG I

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Untuk

Mencapai Derajat Sarjana Keperawatan

Minat Utama Program Studi Ilmu Keperawatan


Disusun Oleh:

Triyo Rachmadi

NIM: A2. 0800180


.SEKOLA
H TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH.

GOMBONG

2010






Telah disetujui pada tanggal: 20 Maret 2010

Pembimbing I Pembimbing II

Herniyatun,SKp, M.Kep, Sp.Mat Safrudin Agus Nur Salim, S.Kep.,Ns

Mengetahui

Ketua Program Studi S1 Keperawatan

STIKES Muhammadiyah Gombong

Herniyatun,SKp, M.Kep, Sp.Mat




HALAMAN PENGESAHAN

SKRIPSI

HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO)

TENTANG PENGOBATAN TB PARU JENIS FIXED DOSE COMBINATION (FDC) DENGAN KEPATUHAN PASIEN

BEROBAT DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS KLIRONG I

Yang dipersiapkan dan disusun oleh:

TRIYO RACHMADI

NIM: A2. 0800180

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

Pada tanggal 20 Maret 2010

Susunan Dewan Penguji

Penguji Utama dan Anggota Dewan Penguji Lain

1. Herniyatun, SKp,M.Kep.,Sp.Mat ( Ketua ) .............................

2. Handoyo,MN ( Anggota) …………………..

3. Ning Iswati, S.Kep.,Ns. ( Anggota ) ……. …………….

Mengetahui

Ketua Program Studi S1 Keperawatan

STIKES Muhammadiyah Gombong

Herniyatun,SKp, M.Kep, Sp.Mat



HALAMAN PERSEMBAHAN

“ Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju Surga “ ( HR. Muslim ).

”Saya Tidak Pernah Takut Menghadapi Hari Esok, karena saya sudah melihat hari kemarin dan saya mencintai hari ini” (Willem W. White)

” Hari inilah yang kita miliki saat ini karena hari kemarin bukan lagi menjadi milik kita dan hari esok belum tentu akan kita jumpai” (Zara Zetira ZR)

Skripsi ini dipersembahkan untuk:

- Keluarga yang banyak berkorban

- Malaikat kecilku tercinta

- Semua Kawan yang telah berjuang bersama



KATA PENGANTAR

Teriring rasa syukur kami panjatkan pada kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan karunia yang tiada batasnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal skripsi ini, yang diajukan untuk memenuhi syarat-syarat guna mengajukan skripsi untuk mencapai gelar Sarjana Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Gombong.

Penulis memilih judul : “HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TENTANG PENGOBATAN TB PARU JENIS FIXED DOSE COMBINATION (FDC) DENGAN KEPATUHAN PASIEN BEROBAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KLIRONG I”

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kemudahan kepada penulis dengan diberikannya dukungan dari beberapa pihak dan hanya Allah SWT yang akan memberikan balasan atas segala partisipasi yang telah diberikan kepada penulis untuk semua pihak yang telah membantu mewujudkan penulisan proposal skripsi ini, mudah-mudahan proposal ini bisa menjembatani penulis dalam mewujudkan gelar Sarjana Keperawatan dengan terkabulnya skripsi yang penulis ajukan.

Terima kasih .......

Kebumen, Maret 2010

Penulis

MUHAMMADIYAH HEALTH SCIENCE INSTITUTE OF GOMBONG

STRATA 1 NURSING STUDY PROGRAM LINE B

TRIYO RACHMADI, HERNIYATUN, SAFRUDIN AGUS NUR SALIM.

THE RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE OBSERVER TREATMENT (PMO) REGARDING THE TREATMENT OF PULMONARY TUBERCULOSIS TYPE OF FIXED DOSE COMBINATION (FDC) AND THE COMPLIANCE OF PATIENT TREATED IN THE PUBLIC HEALTH CENTRE (PUSKESMAS) KLIRONG I AREA.

xiv + 67 pages + 8 table + 2 schema + 20 appendix

ABSTRACT

Use of Anti-Tuberculosis Drugs (OAT) of Fixed Dose Combination (FDC) can simplify the process and simplify patient treatment in consuming drugs. To that required knowledge about treatment of Pulmonary Tuberculosis FDC types that must be possessed by an Observer Treatment (PMO) to support compliance of patient in treatment. The purpose of this study is to determine the relationship between knowledge Observer Treatment (PMO) regarding the treatment of pulmonary tuberculosis type of Fixed Dose Combination (FDC) and the compliance of patients treated in The Public Health Centre Klirong I. This research method is the Quantitative Descriptive Cross sectional study design. The Results were obtained from 30 respondents PMO, 29 persons (96.7%) had a good knowledge and 1 person (3.3%) had enough knowledge about the treatment of pulmonary tuberculosis. From the 30 respondents of Pulmonary TB patients, it is found that 17 patients (56.7%) comply with medical treatment in health centers and 13 men (43.3%) non-adherent patients at community health centers. When analyzed using the chi square test there was no significant relationship between knowledge Observer Drugs (PMO) regarding the treatment of pulmonary tuberculosis type of Fixed Dose Combination (FDC) and the compliance of patient treated. P value 0.374; ά: 0.5.

Keyword: Knowledge, Compliance, Tuberculosis.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG

PROGRAM STUDI STRATA 1 KEPERAWATAN REGULER B

TRIYO RACHMADI, HERNIYATUN, SAFRUDIN AGUS NUR SALIM.

HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TENTANG PENGOBATAN TB PARU JENIS FIXED DOSE COMBINATION (FDC) DENGAN KEPATUHAN PASIEN BEROBAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KLIRONG I

xiv + 67 halaman + 8 tabel + 2 skema + 20 lampiran

ABSTRAK

Penggunaan Obat Anti Tuberculosis (OAT) jenis Fixed Dose Combination (FDC) dapat menyederhanakan proses pengobatan dan mempermudah pasien dalam mengkonsumsi OAT. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang pengobatan TB Paru jenis FDC yang harus dimiliki oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO) dalam mendukung kepatuhan paasien dalam berobat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Pengetahuan Pengawas Menelan Obat (PMO) tentang pengobatan TB Paru jenis Fixed Dose Combination (FDC) dan kepatuhan pasien berobat di wilayah Puskesmas Klirong I. Metode penelitian ini adalah Deskriptif Kuantitatif dengan rancangan studi Crossectional. Diperoleh hasil penelitian dari 30 responden PMO diketahui bahwa 29 orang (96,7 %) mempunyai pengetahuan yang baik dan 1 orang (3,3 %) mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pengobatan TB Paru. Dari 30 orang responden pasien TB Paru diketahui bahwa 17 orang pasien (56,7 %) patuh berobat di Puskesmas dan 13 orang (43,3 %) tidak patuh berobat di Puskesmas. Setelah dianalisis menggunakan chi square tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan Pengawas Menelan Obat (PMO) tentang pengobatan TB Paru jenis Fixed Dose Combination (FDC) dengan kepatuhan pasien berobat. P value 0,374; ά: 0,5.

Kata Kunci: Pengetahuan, Kepatuhan, Tuberculosis.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………... i

HALAMAN PERSETUJUAN.................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... iii.

HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................. iv

KATA PENGANTAR................................................................................. v

ABSTRAK................................................................................................... vi

HALAMAN DAFTAR ISI......................................................................... viii

DAFTAR TABEL........................................................................................ xi

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... xii

DAFTAR SKEMA...................................................................................... xiii

PERNYATAAN ......................................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1

A. Latar Belakang......................................................................... 1

B. Perumusan Masalah................................................................ 4

C. Tujuan Penelitian..................................................................... 5

D. Manfaat Penelitian................................................................... 5

E. Ruang Lingkup....................................................................... 6

F. Keaslian Penelitian.................................................................. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 10

A. Landasan Teori........................................................................ 10

1.Pengetahuan................................................................... 10

2.PMO.............................................................................. 17

3. Pengobatan TB Paru........................................................ 19

4.Kepatuhan......................................................................... 28

B. Kerangka Teori.......................................................................... 31

C. Kerangka Penelitian................................................................... 32

D. Hipotesa Penelitian.................................................................... 33

BAB III METODE PENELITIAN................................................................ 34

A. Metode yang digunakan............................................................ 34

B. Populasi dan Sampel................................................................. 34

C. Variabel Penelitian.................................................................... 36

D. Definisi Operasional................................................................. 36

E. Instrument Penelitian.................................................................. 38

F. Tekhnik Pengumpulan Data...................................................... 39

G. Uji Validitas dan Reabilitas....................................................... 39

H. Tekhnik Analisa Data................................................................ 43

I. Personil yang melakukan........................................................... 45

J. Analisa Data.............................................................................. 46

K. Jalannya penelitian .................................................................. 46

L. Keterbatasan penelitian............................................................. 47

M. Kesulitan Penelitian ................................................................ 47

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................... 49

A. Gambaran Umum........... ........................................................ 49

B. Hasil Penelitian .......................................................................... 49

C. Pembahasan .................................................................................. 55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 64

A. Kesimpulan .................................................................................. 64

B. Saran ............................................................................................ 64

D. Daftar Pustaka ............................................................................ 66

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No. Keterangan Halaman

TABEL 2.1: Dosis Untuk Kategori I (2HRZE/ 4H3R3)………………….. 21

TABEL 2.2: Dosis untuk Kategori 2 (2HRZE/ HRZE/ 5H3R3E3)………. 21

TABEL 2.3: Pengobatan Pasien TB Paru BTA Positif Yang Berobat

Tidak Teratur………………………………………………… 23

TABEL 4.1: Karakteristik PMO di Puskesmas Klirong I ………………… 38

TABEL 4.2: Karakterstik Pasien TB Paru di Puskesmas Klirong I ………. 39

TABEL 4.3: Pengetahuan PMO tentang Pengobatan TB Paru

Jenis FDC ……………………………………………………40

TABEL 4.4: Kepatuhan Pasien berobat …………………………………...41

TABEL 4.5: Hubungan Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan

TB Paru Jenis FDC Dengan Kepatuhan Pasien

Berobat di Puskesmas Klirong I …………………………….42

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Permintaan Pengisian Kuesioner Penelitian

Lampiran 2 : Kuesioner Penelitian

Lampiran 3 : Lembar Permohonan Menjadi Asisten Penelitian

Lampiran 4 : Lembar Persetujuan Menjadi Asisten Peneltian

Lampiran 5 : Kartu Identitas Penderita (TB. 02)

Lampiran 6 : Tanggal Perjanjian (TB.02)

Lampiran 7 : Kartu Pengobatan TB (TB. 01)

Lampiran 8 : Kartu Pengobatan TB Tahap Lanjutan (TB. 01)

Lampiran 9 : Lembar Konsultasi Bimbingan

Lampiran 10 : Lembar Kerja Mengikuti Seminar Hasil

Lampiran 11 : Jadual Penelitian

Lampiran 12 : Lembar Revisi

Lampiran 13 : Lembar Permohonan Izin STIKES Muhammadiyah Gombong

Lampiran 14 : Rekomendasi Penelitian Badan Kesbanglinmas

Lampiran 15 : Lembar Izin Pelaksanaan Survey/ Penelitian Bappeda

Lampiran 16 : Lembar Pelaksanaan Survey/ Penelitian Dinas Kesehatan

Lampiran 17 : Jadual Seminar Hasil

Lampiran 18 : Uji Validitas

Lampiran 19 : Uji Reliabilitas

Lampiran 20 : Uji Korelasi Bivariat

DAFTAR SKEMA

SKEMA 1 : KERANGKA TEORI …………………………………….24

SKEMA 2: KERANGKA PENELITIAN ……………………………..25

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi yang saya ajukan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Gombong, Maret 2010

Triyo Rachmadi

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Tuberculosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia, menurut laporan WHO (1999) diperkirakan 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara berkembang. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Demikian juga di Indonesia, yang menempati urutan ke 3 dalam jumlah penderita TB atau 10% dari penderita TB sedunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI Gerdunas TB, 2008).

Ancaman TB Paru yang lain adalah adanya Multiple Drug Resistance (MDR) yang terjadi karena penderita TB tidak patuh dalam mengkonsumsi Obat Anti TBC (OAT) secara teratur, hal ini disebabkan karena beberapa hal salah satunya adalah kurangnya pengetahuan tentang pengobatan TB Paru pada Pengawas Menelan Obat (PMO) dan penderita itu sendiri. Hal tersebut bisa terjadi tidak tuntasnya pengobatan TB Paru yang relatif lama dan kebosanan pada penderita dalam mengkonsumsi OAT, karena pengobatan TB memerlukan waktu yang relatif lama. Dengan demikian untuk mendukung keberhasilan pemerintah dalam penyakit TB, prioritas utama ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, penggunaan obat yang rasional dan paduan obat yang sesuai dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) (Gerdunas TB, 2005).

OAT yang tersedia saat ini harus dikonsumsi penderita dalam jumlah tablet yang cukup banyak dan dapat menyebabkan kelalaian pada penderita, oleh karena itu dikembangkan dan digunakan sejak 2003 OAT jenis FDC yaitu kombinasi OAT dalam jumlah tablet yang lebih sedikit dengan jumlah kandungan masing-masing komponen sudah disesuaikan dengan dosis yang diperlukan. Diharapkan dengan penggunaan Obat Anti TBC jenis Fixed Dose Combination (OAT-FDC) atau Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dapat menyederhanakan proses pengobatan, meminimalkan kesalahan pemberian obat dan mengurangi efek samping (Rahmat, 2002).

Berdasarkan Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah tahun 2007 untuk TB Paru penemuan kasus baru BTA (+) tahun 2005 sebanyak 17.523 orang, tahun 2006 sebanyak 17.304 orang dan tahun 2007 tribulan II sebanyak 8.225 orang, diketahui jumlah kasus baru BTA (+) setiap tahun mengalami trend yang sama (stabil) (Hartanto, 2007).

Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen tahun 2008, penemuan kasus penderita TB dengan BTA (+) sejumlah 755 kasus dengan jumlah suspek 9.088 kasus, kasus BTA neg, Rontgen positif sejumlah 905 kasus. Angka kesembuhan berjumlah 679 kasus, Angka CDR 57%, proporsi angka BTA (+) 45%. Sedangkan berdasarkan profil Puskesmas Klirong I pada tahun 2008 sampai dengan sekarang jumlah pasien TB Paru BTA (+) sejumlah 31 kasus, BTA (–) Rontgen (+) sejumlah 11 kasus, pasien luar wilayah 18 kasus. BTA Rate 7,8 %, CDR 56%, Proporsi BTA (+) berjumlah 81 %, pengobatan lengkap 4 kasus, dan angka kesembuhan sebesar 80 %, walaupun angka kesembuhannya baik tetapi kepatuhan penderita berobat masih rendah karena masih tergantung kunjungan rumah dari PMO. Dari data tingkat kepatuhan pasien berobat di Puskesmas Klirong I pada tahun 2008 sejumlah 12 orang (50 %), pada tahun 2009 sejumlah 7 orang (38,8 %). Ketidakpatuhan pasien berobat di Puskesmas Klirong ini meliputi: ketidaktepatan pasien berkunjung untuk mengambil obat sesuai jadwal, menelan obat sesuai jumlah dan waktu minum obat yang ditentukan. Penderita akan meminum obat bila PMO datang berkunjung ke rumahnya dan mengambilkan obatnya ke Puskesmas. Ketidakpatuhan (mangkir) penderita menelan OAT selama 1 – 2 minggu masih bisa ditolerir dengan melanjutkan pengobatan yang terputus, sementara ketidakpatuhan menelan OAT selama lebih dari 2 minggu akan mengulangi pengobatan dari awal dengan tetap memeriksakan sputum di laboratorium (Gerdunas TB, 2005)

Mengingat masih adanya ketidakpatuhan dari penderita yang memungkinkan resiko pengobatan gagal dan default, maka penatalaksanaan Penyakit TB harus benar- benar dilaksanakan sesuai dengan kebijakan Program Pemberantasan Penyakit Tuberculosis (P2TB). Peran dan pengetahuan PMO sangat penting dalam rangka mencapai kepatuhan berobat dan penyembuhan penderita TB, sehingga pelaksanaan P2TB sangat diperlukan evaluasi untuk mengetahui kepatuhan dan kesembuhan dalam Program P2TB di wilayah kerja Puskesmas Klirong I. Hal tersebut tentunya sesuai dengan program pemerintah yang tujuannya adalah memutus rantai penularan penyakit TB, mencegah kekebalan kuman terhadap OAT (MDR) (Gerdunas TB, 2005)

Peran perawat di puskesmas dalam hal ini adalah sebagai fasilitator dan memonitor PMO dalam melaksanakan pengobatan TB Paru kepada penderita. Perawat di Puskesmas tidak dapat memantau pengobatan TB kepada masing-masing penderita TB secara terus menerus, maka perawat memerlukan seorang PMO untuk membantu jalannya pengobatan TB demi keberhasilan Program P2TB. Berdasarkan keadaan tersebut, penulis tertarik untuk meneliti pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dalam membantu perawat memonitor jalannya pengobatan pasien dan ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menggunakan OAT.

  1. Perumusan Masalah

Adakah hubungan pengetahuan Pengawas Menelan Obat (PMO) tentang pengobatan TB Paru jenis FDC (Fixed Dose Combination) terhadap kepatuhan pasien berobat?

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Tujuan Umum

Melakukan evaluasi sejauh mana hubungan pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dalam mendukung kepatuhan penderita berobat.

2. Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini untuk menggali informasi tentang:

a. Mengidentifikasi pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru

OAT - FDC

b. Mengidentifikasi kepatuhan pasien dalam berobat.

  1. Manfaat Penelitian

a. Bagi Masyarakat

Menambah pengetahuan masyarakat pada umumnya dan PMO pada khususnya dalam membantu memantau pengobatan TB Paru terutama dalam kepatuhan pasien menjalani pengobatan.

2. Bagi Puskesmas Klirong I

Diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi bagi pengelola program P2TB Puskesmas Klirong I.

3. Bagi Pengambil Kebijakan

Sebagai motivator, memberi masukan dan informasi tentang pelayanan kesehatan masyarakat yang baik khususnya untuk penyakit TBC

4. Bagi Dunia Ilmu Pengetahuan

Mengetahui secara mendalam tentang pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru, maka diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan baik yang bersifat konseptual dan teoritis.

E. Ruang Lingkup Penelitian

a. Lingkup Keilmuan

Bidang Ilmu Keperawatan Komunitas dengan penekanan Epidemiologi Penyakit Tropis khususnya TB Paru

b. Lingkup Masalah

Masalah dibatasi untuk mengetahui pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru OAT FDC dan kepatuhan pasien dalam berobat.

c. Lingkup Sasaran

Sasaran penelitian ini adalah seluruh PMO dan pasien TB Paru di Puskesmas Klirong I.

d. Lingkup Lokasi

Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Klirong I Kabupaten Kebumen.

e. Lingkup Waktu

Penelitian ini dilakukan pada Bulan Agustus sampai Oktober tahun 2009.

F. Keaslian Penelitian

Berdasarkan informasi yang kami terima selama ini penelitian tentang hubungan pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat di wilayah kerja Puskesmas Klirong I belum pernah dilakukan, tetapi penelitian sejenis yang pernah dilakukan antara lain oleh:

1. Basuki (2005) dengan judul ” Peran Pengawas Menelan Obat Pada Penderita TBC Dalam Mengkonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Wilayah Kerja Puskesmas Sempor I dan II ”. Penelitian ini dilakukan

selama 3 bulan dengan jumlah responden sebanyak 98 orang terdiri dari 34 orang responden dari PMO dan 34 orang responden dari pasien TB Paru, secara umum diperoleh data bahwa 34 orang (100 %) PMO mengetahui kalau dirinya menjadi PMO dan terdapat 19 orang PMO (55,88 %) tidak tinggal serumah dengan penderita dan PMO yang tinggal serumah dengan penderita sebanyak 15 orang (44,12 %), 34 orang PMO (100 %) mengatakan mengetahui kalau pasien TBC sudah minum OAT, 28 orang pasien TBC minum obat secara teratur dan 6 orang pasien (17,65 %) tidak minum OAT secara teratur, hal ini kemungkinan karena PMO tidak tinggal serumah dengan pasien atau mungkin karena pasien merasa sudah sembuh atau bosan mengkonsumsi OAT terlalu lama. Persamaan penelitian yang dilakukan Basuki dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama meneliti PMO dan penderita TBC dalam menjalani pengobatan OAT, sedangkan perbedaannya adalah penulis mencari hubungan antara pengetahuan PMO dengan kepatuhan pasien dalam berobat dan juga pengobatan yang digunakan yaitu menggunakan OAT terbaru yaitu jenis FDC. Selain itu perbedaan yang lain adalah lokasi penelitian.

2. Sumarwanto (2008) dengan judul ”Tingkat Pengetahuan Kader Tentang Penyakit TBC Di Puskesmas Klirong II Kabupaten Kebumen” . Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan dengan jumlah responden 33 orang dari 250 orang di wilayah kerja Puskesmas Klirong II, secara umum diperoleh 3 kategori tingkat pengetahuan kader kesehatan Puskesmas Klirong II yaitu: Berkategori tinggi dengan prosentase 45 % artinya baik dalam pengetahuan penyakit TBC, Berkategori sedang dengan prosentase 52,5 % artinya kader cukup baik dalam pengetahuan penyakit TBC dan berkategori rendah mencapai prosentase 2,5 % artinya kader belum mempunyai pengetahuan tentang penyakit TBC. Persamaan penelitian yang dilakukan Sumarwanto dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama meneliti pengetahuan kader atau PMO tentang penyakit TBC tetapi perbedaannya penulis lebih meneliti ke dalam yaitu pengetahuan tentang pengobatan OAT dengan jenis FDC, mencari hubungannya dengan kepatuhan pasien dalam berobat dan lokasi penelitian.

3. Noor, Frida Ani (2008) dengan judul ”Hubungan Pengawas Menelan Obat (PMO) Keluarga Terhadap Kepatuhan Menelan Obat Pada Penderita TB Paru Yang Mendapat Program DOTS di Puskesmas Mojo, Surabaya”. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan dengan jumlah responden 56 orang di Puskesmas Mojo, Surabaya, diperoleh adanya hubungan antara PMO Keluarga dengan kepatuhan berobat pada penderita TB Paru. Persamaan penelitian yang dilakukan Frida Ani Noor dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama meneliti hubungan antara PMO dengan tingkat kepatuhan berobat pada pasien TB Paru. Sedangkan perbedaannya adalah penulis meneliti PMO tidak hanya sebatas pada keluarga tetapi seluruh PMO yaitu tetangga, teman, kader dan tenaga kesehatan di sekitar pasien.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengetahuan

a. Definisi

Notoatmojo (2003) mengatakan bahwa pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang menjawab what dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengalaman manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour).

Pengetahuan merupakan proses kognitif dari seseorang atau individu untuk memberi arti terhadap lingkungan, sehingga masing-masing individu akan memberi arti sendiri-sendiri terhadap stimuli yang diterimanya meskipun stimuli itu sama. Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja (Nurhidayati, 2005)

Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya, yang yang berbeda sekali dengan kepercayaan (believe), takhayul (superstitions) dan penerangan-penerangan yang keliru (Soekamto, 2002).

b. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif (Notoatmojo, 2003) terbagi dalam 6 tingkat, yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu artinya sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling trendah karena tingkat ini hanya mengingat kembali (recall) terhadap suatu hal yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

2. Memahami (comprehension)

Memahami dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Mereka yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada suatu situasi atau kondisi real (kondisi sebenarnya).

4. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada.

6. Evaluasi

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.

c. Dasar-Dasar Pengetahuan

1) Pengalaman

Pengalaman adalah keseluruhan peristiwa perjumpaan dan apa yang telah terjadi pada manusia dalam interaksinya dengan alam, diri sendiri,

lingkungan sosial dan dengan seluruh kenyataan, termasuk Yang Maha Esa.

2) Ingatan

Dalam kedudukannya sebagai dasar pengetahuan baik pengalaman maupun ingatan saling berkaitan. Tanpa ingatan, pengalaman tidak akan berkembang menjadi pengetahuan, sementara ingatan mengandalkan pengalaman sebagai sumber dan dasar rujukannya.

3) Kesaksian

Kesaksian adalah penegasan sesuatu yang benar oleh seorang saksi kejadian atau peristiwa, diajukan kepada orang lain untuk dipercaya.

4) Minat rasa ingin tahu

Hal lain yang mendasari adanya pengetahuan adalah minat rasa ingin tahu. Minat mengarahkan perhatian terhadap hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan. Rasa ingin tahu erat kaitannya dengan pengalaman, kekaguman, keheranan apa yang dialami.

5) Pikiran dan penalaran

Agar dapat memahami dan menjelaskan apa yang dialami, manusia perlu melakukan kegiatan berpikir yang mengandalkan pikiran. Kegiatan pokok pikiran dalam mencari pengetahuan adalah penalaran. Penalaranmerupakan proses pemikiran untuk menarik kesimpulan dari hal-hal yang sebelumnya diketahui.

6) Logika

Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari segenap asa, aturan dan tata cara penalaran yang betul (correct reasoning). Logika merupakan suatu dasar yang amat perlu untuk memperoleh pengetahuan yang benar, sebab tanpa logika penalaran tidak mungkin dilakukan.

7) Bahasa

Bahasa merupakan salah satu hal yang mendasari dan memungkinkan pengetahuan pada manusia. Manusia bukan hanya dapat mengungkapkan, mengkomunikasikan pikiran, perasaan dan sikap batinnya, tetapi juga menyimpan, mengingat kembali, mengulas dan memperluas apa yang sampai sekarang telah diketahuinya.

8) Kebutuhan hidup manusia

Kebutuhan hidup manusia merupakan suatu faktor yang mendasari dan mendorong berkembangnya pengetahuan manusia. Untuk melakukan interaksinya dengan dunia dan lingkungan sekitarnya, manusia membutuhkan pengetahuan.

d. Cara Memperoleh Pengetahuan

1) Trial and Error

Jika seseorang menghadapi persoalan atau masalah, upaya pemecahannya dilakukan dengan cara coba-coba, dimana digunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila ada kemungkinan lain hinga masalah tersebut dapat dipecahkan.

2) Cara kekuasaan atau otoritas

Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemimpin, agama maupun ahli ilmu pengetahuan.

3) Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

4) Melalui jalan pikiran

Kebenaran pengetahuan dapat diperoleh manusia dengan menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi atau deduksi.

5) Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dari proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan dirinya untuk memiliki karakter spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan dirinya, masyarakat dan negara (Depdiknas,2003).

Menurut Depdiknas (2003) pendidikan dapat dibagi menjadi:

a. Pendidikan formal yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terjadi atas pendidikan dasar menengah dan pendidikan tinggi.

b. Pendidikan non formal yaitu jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

c. Pendidikan informal yaitu pendidikan keluarga dan lingkungan.

Menurut Depdiknas (2003) jalur pendidikan formal dibagi menjadi:

a. Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk SD (Sekolah Dasar)/ MI (Madrasah Ibtidaiyah) atau sederajat dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/ MTS (Madrasah Tsanawiyah) atau yang sederajat.

b. Pendidikan Menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) /Madrasah Aliyah (MA) atau yang sederajat.

c. Pendidikan tinggi merupakan jenjang setelah menengah yang mencakup pendidikan Diploma, Sarjana, Magister, Spesialis dan dokter yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi.

Pendidikan merupakan proses pengoperasian secara urut mengenai pengetahuan, ide-ide, opini-opini dari satu pihak ke pihak lain. Ini membuat seseorang memiliki cakrawala yang luas. Semakin tinggi pendidikan masyarakat, diharapkan semakin mudah masyarakat untuk mengubah tingkah lakunya.

2. Pengawas Menelan Obat (PMO)

Pengawas Menelan Obat (PMO) adalah seseorang yang dipercaya untuk mengawasi penderita TB Paru menelan obat sesuai ketentuannya. (Depkes, 2001)

Sebelum pengobatan pertama kali dimulai, harus ditunjuk seorang PMO dan PMO harus diberi pelatihan singkat tentang perlunya pengawasan minum obat setiap hari. Beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang PMO adalah gejala-gejala TB, tanda-tanda efek samping obat dan mengetahui cara mengatasi bila ada efek samping, cara merujuknya dan cara memberi penyuluhan tentang TB Paru.

Persyaratan PMO adalah seseorang yang dikenal, dekat dengan penderita, bersedia dan sukarela membantu pasien untuk mencapai kesembuhan, dipercaya dan disetujui baik oleh petugas kesehatan maupun penderita, selain itu harus disegani dan dihormati oleh penderita serta bersedia mengikuti pelatihan-pelatihan (Depkes, 2000).

Peran PMO diantaranya adalah mengawasi penderita TB agar menelan obat secara teratur sampai selesainya pengobatan, memberikan motivasi kepada penderita agar mau berobat secara teratur, mengingatkan penderita untuk memeriksakan pemeriksaan ulang sesuai jadwal yang telah ditentukan, memberikan penyuluhan kepada anggota keluarga tentang masalah TB Paru, membantu dalam pengambilan obat bagi penderita, serta membantu antar jemput dahak untuk pemeriksaan dahak ulang (Depkes, 2000).

Pemantauan terhadap pasien dalam pelaksanaan menelan obat sangat penting, hal tersebut dimaksudkan untuk penderita mengalami kesulitan dalam penyembuhan bahkan bisa resisten apabila penderita mengkonsumsi obat tidak benar, mencegah pemborosan obat dan waktu dan jika tidak minum OAT satu kali, maka fase awal dan seminggu pada fase lanjutan dengan segera ketahuan, dilacak apa penyebabnya diatasi agar pengobatan dapat dilanjutkan (Depkes, 2001).

3. Pengobatan TB Paru

Obat TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6 – 8 bulan, supaya semua kuman persister dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal pada saat perut kosong. Apabila paduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis,dosis dan jangka waktu pengobatan) kuman TB akan berkembang menjadi kuman kebal obat (resisten). Pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung oleh seorang PMO untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, tahap awal dan tahap Lanjutan.

a. Tahap Awal (Intensif Fase)

Pada tahap ini penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap Rifampisin. Bila saat tahap ini diberikan secara tepat, penderita menjadi tidak menular dalam waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB yang BTA positif menjadi BTA negative pada akhir tahap intensif.

b. Tahap lanjutan (Intermitten Fase)

Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat dalam jangka waktu yang lebih lama dan obat yang diberikan lebih sedikit untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

Beberapa katagori pengobatan TBC:

a. Pengobatan dengan kategori 1:

Akhir bulan ke 2 pengobatan sebagian besar dari penderita dahak yang diperiksa sudah menjadi BTA negatif (konversi). Penderita ini dapat meneruskan pengobatan dengan tahap lanjutan. Jika pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 2 hasilnya masih BTA positif, pengobatan diteruskan dengan OAT sisipan selama 1 bulan. Setelah paket sisipan 1 bulan selesai, dahak diperiksa kembali. Pengobatan tahap lanjutan tetap diberikan meskipun hasil pemeriksaan ulang dahak dahak BTA masih tetap positif. Untuk penderita TB yang BTA negative tetapi Rontgen positif dilakukan Foto Rontgen Thorax ulang pada akhir bulan 2 untuk mengetahui tingkat kerusakan paru-paru.

b. Pengobatan dengan kategori 2. Jika pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 3 masih positif, tahap intensif harus diteruskan lagi selama 1 bulan dengan OAT sisipan. Setelah 1 bulan diberi sisipan, diperiksa dahaknya kembali. Pengobatan tahap lanjutan tetap diberikan meskipun hasil pemeriksaan dahak ulang masih BTA masih positif. Bila memungkinkan specimen dahak penderita dikirim untuk dilakukan biakan dan uji kepekaan obat (sensitivity test). Sementara pemeriksaan dilakukan, penderita meneruskan pengobatan tahap lanjutan. Bila hasil uji kepekaan obat menunjukkan bahwa kuman sudah resisten terhadap 2 atau lebih jenis OAT, maka penderita tersebut dirujuk ke unit pelayanan spesialistik yang dapat menangani kasus resisten. Bila tidak mungkin, maka pengobatan dengan tahap lanjutan diteruskan sampai selesai.

c. Pengobatan dengan kategori 3

Meskipun pengobatan kategori 3 adalah untuk penderita BTA negative, Rontgen Positif namun pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 2. Bila hasil pemeriksaan ulang dahak BTA Positif, maka ada 2 kemungkinan yaitu: pertama suatu kekeliruan pada pemeriksaan 1 (pada saat diagnosis sebenarnya adalah BTA Positif tapi dilaporkan sebagai BTA negatif). Kedua, penderita berobat tidak teratur. Seorang penderita yang didiagnosis sebagai penderita BTA negative dan diobati dengan katagori 3, yang hasil pemeriksaan ulang dahak pada akhir bulan ke 2 adalah BTA positif, harus didaftar kembali sebagai penderita BTA positif dan mendapat pengobatan dengan kategori 2 mulai dari awal.

Pemeriksaan dahak pada sebelum akhir pengobatan (AP) bertujuan untuk menilai hasil pengobatan (sembuh atau gagal)

4. Pemantauan Hasil Pengobatan TB Paru Pada Orang Dewasa

Pemantauan Hasil Pengobatan TB Paru pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis dinilai lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Laju Enap Darah (LED) tidak dapat dipakai untuk memantau kemajuan pengobatan.Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan specimen sebanyak 2 kali (Sewaktu dan Pagi). Hasil dinyatakan negative bila kedua specimen tersebut negative. Bila salah satu specimen positif maka hasil pemeriksaan ulang dahak dinyatakan positif. Pemeriksaan dahak untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pada:

a. Akhir tahap Intensif dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke2 pengobatan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke 3 pengobatan kategori 2. Sebulan sebelum akhir pengobatan dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 5 pengobatan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke 7 pengobatan kategori 2.

b. Akhir pengobatan dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 6 pengobatan kategori 1 atau seminggu sebelum akhir bulan ke 8 pengobatan kategori 2

5. Obat Anti Tuberculosis Fixed Doses Combination (OAT – FDC)

Obat Anti Tuberculosis Fixed Doses Combination (OAT – FDC) adalah obat tablet yang isinya terdiri dari kombinasi beberapa jenis obat dengan dosis tetap (Rahmat, 2002).

Beberapa keuntungan dari penggunaan FDC untuk pengobatan TB antara lain:

a. Mudah pemberiannya

Satu tablet sudah mengandung beberapa jenis obat yang diperlukan. Dengan demikian dapat mencegah pengobatan TBC dengan obat tunggal (mencegah terjadinya kekebalan obat)

b. Mudah untuk penderita

Menelan obat dengan jumlah tablet yang lebih sedikit (meningkatkan penerimaan penderita)

c. Mudah menyesuaikan dosis obat dengan berat badan penderita

d. Mudah pengelolaan obat

Mudah pengelolaan obat pada semua tingkat pelaksana karena hanya beberapa jenis tablet sudah cocok untuk semua kategori dan semua berat badan penderita

e. Mudah pembiayaannya

Harganya lebih murah dibandingkan dengan satu tablet yang mengandung satu jenis obat seperti pada Kombipak. Tidak seperti pengobatan dengan Kombipak, pada pengobatan dengan FDC, penderita BTA Negatif diberikan paduan obat kategori I (bukan kategori 3) (Depkes RI, 2002)

6. Jenis Tablet FDC

Untuk sementara ada 2 macam tablet FDC yang digunakan di Indonesia, yaitu:

a. Tablet yang mengandung 4 macam obat dikenal sebagai tablet 4FDC. Setiap tablet mengandung: 1. 75 mg Isoniazid (INH)

2. 150 mg Rifampicin

3. 400 mg Pirasinamid

4. 275 mg Etambutol

Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap intensif dan untuk sisipan. Jumlah tablet yang digunakan disesuaikan dengan berat badan penderita.

b. Tablet yang mengandung 2 macam obat dikenal sebagai tablet 2FDC. Setiap tablet mengandung:

1. 150 mg Isoniazid (INH)

2. 150 mg Rifampicin. Tablet ini digunakan untuk pengobatan intermitten 3 kali seminggu dalam tahap lanjutan. Jumlah tablet yang digunakan disesuaikan dengan berat badan penderita. Disamping itu tersedia obat lain untuk melengkapi paduan obat kategori 2, yaitu:

1. Tablet Etambutol @ 400 mg

2. Streptomicin injeksi, vial @ 750 mg

3. Aquabidest Untuk sementara belum tersedia Tablet 3FDC dan tablet FDC anak.

7. Kategori Pengobatan

Kategori pengobatan FDC hanya terdiri dari 2 kategori, Yaitu kategori 1 dan kategori 2.

1. Kategori 1 (2HRZE/ 4H3R3)

Kategori 1 diperuntukkan pada:

a. Penderita TB Paru BTA Positif

b. Penderita TB Paru BTA negative/ Rontgen positif (ringan atau berat)

c. Penderita TB Ekstra Paru (ringan/ berat) Meskipun kategori pengobatan pada penderita TB Paru BTA Negatif sama dengan BTA Positif, tapi diagnosis penderita harus ditegakkan dengan pemeriksaan dahak, apakah penderita tersebut BTA positif atau BTA negatif/ Rontgen positif. Pemeriksaan dahak harus dilakuka karena penting untuk pencatatan dan pelaporan. Harus dilaporkan berapa penderita baru BTA positif dan berapa penderita BTA negatif/ Rontgen positif yang ditemukan dan diobati.

2. Kategori 2 (2HRZE/ HRZE/ 5H3R3E3) Kategori 2 diperuntukkan pada:

a. Penderita TB BTA positif kambuh

b. Penderita TB BTA positif gagal

c. Penderita TB bekas defaulter yang kembali dengan BTA positif.

8. Dosis Pengobatan

Dosis pengobatan Tuberculosis dengan tablet FDC sedikit berbeda dengan dosis kombipak. Dosis pengobatan dengan tablet FDC disesuaikan dengan rekomendasi WHO dan IUATLD yaitu dengan memperhatikan berat badan penderita (Lihat tabel 2.1).

Tabel 2.1: Dosis Untuk Kategori I (2HRZE/ 4H3R3)

Berat Badan

Tahap Intensif tiap hari selama 2 bulan

Tahap lanjutan 3 kali seminggu selama 4 bulan

30 - 37 kg

2 tablet 4FDC

2 tablet 2FDC

38 – 54 kg

3 tablet 4FDC

3 tablet 2FDC

55 – 70 kg

4 tablet 4FDC

4 tablet 2FDC

> 70 kg

5 tablet 4FDC

5 tablet 2FDC

Tabel 2.2: Dosis untuk Kategori 2 (2HRZE/ HRZE/ 5H3R3E3)

Berat Badan

Tahap Intensif (selama3 bulan)


Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama 5 bulan


Tiap hari

Selama 2 bln

Tiap hari

Selama 1 bln


30 – 37 kg

2 tab 4FDC

+ Streptomicin Inj.

2 tab 4FDC

2 tab 2FDC + 2 tab Etambutol

38 – 54 kg

3 tab 4FDC

+ Streptomicin Inj.

3 tab 4FDC

3 tab 2FDC + 2 tab Etambutol2 tab 2FDC + 3 tab Etambutol

55 – 70 kg

4 tab 4FDC

+ Streptomicin Inj.

4 tab 4FDC

4 tab 2FDC + 4 tab Etambutol

>70 kg

5 tab 4FDC

+ Streptomicin Inj.

5 tab 4FDC

5 tab 2FDC + 5 tab Etambutol

Sumber: Petunjuk Penggunaan OAT-FDC Untuk Pengobatan TBC di UPK

4. Kepatuhan

Kepatuhan (Complience) berarti mengikuti suatu spesifikasi, standar atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang biasanya diterbitkan oleh suatu lembaga/ organisasi yang berwenang dalam suatu bidang tertentu. Lingkup suatu aturan dapat bersifat internasional seperti misalnya standar internasional yang diterbitkan oleh ISO serta aturan-aturan nasional yang diterbitkan oleh Bank Indonesia untuk sektor Perbankan Indonesia. (Wikipedia, 2000)

Kepatuhan dalam berobat menggunakan OAT jenis FDC meliputi kepatuhan dalam menelan OAT secara teratur dan terus menerus tanpa terputus setiap hari (terutama dalam fase intensif/ awal), sesuai dengan dosis yang dianjurkan, sesuai dengan jumlah obat yang ditelan, sesuai dengan waktu menelan obat dan sesuai dengan jadual kunjungan berobat di puskesmas. Ketidak patuhan (mangkir) pasien dalam menelan obat terjadi bila pasien tidak menelan obat selama 1 sampai 14 hari walaupun nantinya bisa ditolerir dengan melanjutkan pengobatannya yang terputus. Mangkir juga terjadi bila pasien menelan obat tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan misalnya, menelan obat OAT-FDC sehari 3 kali yang seharusnya sehari 1 kali. Kemudian menelan obat dengan jumlah yang lebih dari seharusnya. Selain itu, pasien dikatakan mangkir bila pasien tidak mematuhi jadual kunjungan pengambilan OAT di Puskesmas.

Tabel 2.3: Pengobatan Pasien TB Paru BTA Positif Yang Berobat Tidak Teratur.

Lama Pengobatan Sebelumnya

Lamanya Pengobatan Terputus

Perlu Tidaknya Pemeriksaan Dahak

Hasil Pemeriksaan Dahak

Dicatat

Kembali Sebagai

Tindakan Pengobatan

< 1 bulan

< 2 minggu

Tidak

-

-

Lanjutkan Kat-1

2-8 minggu

Tidak

-

-

Mulai lagi Kat-1 dari awal

8.a.1.1.1.

> 8 minggu

Ya

Positif

-

Mulai lagi Kat-1 dari awal

Negatif

-

Lanjutkan Kat-1

1-2 bulan

< 2 minggu

Tidak

-

-

Lanjutkan Kat-1

2-8 minggu

Ya

Positif

-

Tanbahkan 1 bulan sisipan

Negatif

-

Lanjutkan Kat-1

> 8 minggu

Ya

Positif

Pengobatan setelah Default

Mulai dengan Kat-2 dari awal

Negatif

Pengobatan setelah Default

Lanjutkan Kat-1

>2 bulan

< 2 minggu

Tidak

--

-

Lanjutkan Kat-1

2-8 minggu

Ya

Positif

-

Mulai dengan Kat-2 dari awal

Negatif

-

Lanjutkan Kat-1


8.a.1.1.2.

> 8 minggu

Ya

Positif

Pengobatan setelah Default

Mulai dengan Kat-2 dari awal

Negatif

Pengobatan setelah Default

Lanjutkan Kat-1

Sumber: Pedoman Nasional Penanngulangan Tuberculosis Departemen Kesehatan RI Tahun 2002.

5. Kerangka Teori

Pengetahuan PMO tentang Pengobatan TB Paru

Peran Pemegang Progam P2TB Paru Puskesmas

Kepatuhan Pasien Berobat


Tidak Patuh

Peran Perawat

Patuh

____ : yang diteliti

----- : tidak diteliti

Sumber: Notoatmojo, 2003, Gerdunas TB,2005, Haikin Rahmat, 2002, Wikipedia, 2000.

Skema 1

5. Kerangka Konsep Penelitian

Kepatuhan Pasien

Menelan Obat

  1. Patuh
  2. Tidak Patuh

Pengetahuan PMO

Tentang Pengobatan TB Paru

1. Baik

2. Cukup baik

3. Kurang baik

4. Tidak baik


Faktor-faktor Yang Mempengaruhi:

1.Pengetahuan PMO

2.Pengetahuan Pasien

3.Usia PMO

4.Usia Pasien

5.Peran Perawat

6.Jarak rumah pasien dan Puskesmas

7. Keluarga Pasien

Skema 2

6. Hipotesa Penelitian

a. Hipotesa Alternatif (Ha):

Ada hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat.

b. Hipotesa Nol (H0)

Tidak ada hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Yang Digunakan

Penelitian korelasional bertujuan untuk mencari atau menguji hubungan antara variabel. Peneliti mencari, menjelaskan suatu hubungan, memperkenalkan, menguji berdasarkan teori yang ada (Al Ummah, 2008)

Rancangan penelitian cross-sectional adalah jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran/ observasi data variabel independen dan dependen dinilai hanya satu kali pada satu saat. Pada jenis ini variable independen dan dependen dinilai secara simultan pada satu saat, jadi tidak ada follow up (Al Ummah, 2008)

Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif bersifat korelatif dengan pendekatan Studi Cross Sectional.

B. Populasi dan sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah PMO yang terdaftar di Puskesmas Klirong I dengan jumlah 40 orang dan pasien TB Paru di Puskesmas Klirong I yang menjalani pengobatan OAT jenis FDC Kategori 1 dan 2 dengan jumlah 30 orang.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi (Sugiyono, 2005).

Tekhnik pengambilan sampel untuk pasien TB Paru yang digunakan adalah non probability Sampling yaitu total sampling (sampel jenuh) artinya semua populasi diambil sebagai sampel (Sugiyono, 2005). Sedangkan untuk sampel PMO diambil 30 orang dari 40 orang PMO yang terdaftar.

3. Kriteria Sampel

a. Sampel inklusi yaitu:

1. PMO pasien TB Paru dewasa yang bersedia menjadi responden

2. Pasien TB Paru dewasa berusia 21 tahun ke atas.

3. Pasien yang tercatat sebagai pasien TB Paru BTA positif

4. Pasien yang tercatat sebagai pasien TB Paru BTA negatif, Rontgen positif.

5. Pasien yang tercatat sebagai penemuan kasus baru.

6. Pasien yang tercatat sebagai pasien pindahan/ rujukan dari Unit Pelayanan Kesehatan yang lain, seperti: BP 4, Rumah Sakit Umum dan Puskesmas lain.

7. Pasien pendatang dari luar wilayah Klirong I yang sedang menjalani pengobatan tetapi menetap sementara waktu di Klirong selama beberapa bulan yang hanya tercatat di lembar status pasien.

8. Pasien TB Paru yang kambuh

b. Sampel eklusi yaitu:

1) PMO yang tidak bersedia menjadi responden.

2) PMO pasien TB Paru anak

3) Pasien TB Paru anak

4) Pasien TB Paru dewasa yang sudah sembuh.

C. Variabel Penelitian

Di dalam penelitian ini ada 2 variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Yang menjadi variabel bebas adalah pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC, sedangkan yang menjadi variabel terikat adalah kepatuhan pasien berobat.

D. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah suatu definisi yang didasarkan pada karakteristik yang dapat diobservasi dari yang sedang didefinisikan atau “mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan yang dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain (Young, dikutip oleh Koentjoroningrat, 1991; 23)

Variabel

Definisi Operasional

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala Data

Variabel bebas: Pengetahuan PMO tentang Pengobatan TB Paru jenis FDC.

Variabel terikat: Kepatuhan Pasien Dalam Berobat.

Pengetahuan PMO tentang Pengobatan TB Paru jenis FDC.

Kepatuhan pasien dalam menelan OAT yaitu: teratur, sesuai dosis berdasarkan berat badan, sesuai jumlah dan sesuai

Kuesioner tertutup tentang pengobatan TB Paru jenis FDC berjumlah 13 soal.

Pengambilan data dari status pasien dan menggunakan lembar pengobatan dengan jadwal kunjungan pasien.

skor >40% sangat kurang.Skor 40-55 % kurang tahu.Skor 56-75% cukup, skor >75% pengetahuan baik.(Arikunto, 2003)

Bila pasien datang mengambil obat sesuai jadual dan menunjukkan bungkus obat yang habis akan diberi

Ordinal

Nominal

Variabel

Definisi Operasional

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala Data


waktu.


tanda di lembar kunjungan, menelan obat sesuai dosis dan tanpa terputus dianggap patuh: nilai 1, bila sebaliknya dianggap tidak patuh diberi nilai: 0


E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan yaitu format kuesioner yang berfungsi sebagai alat bantu observasi untuk mengetahui pengetahuan PMO berjumlah 13 soal dan lembar jadwal kunjungan pengambilan obat pasien untuk menilai kepatuhan menelan OAT pasien TB Paru. Untuk kuesioner pengobatan FDC peneliti membuat instrument sendiri adalah kuesioner terstruktur yaitu kuesioner dengan alternatif jawaban yang disediakan oleh peneliti. Angket dibuat seperti lembar test (pilihan ganda).

1. Instrumen untuk data sekunder dengan menggunakan data hasil pencatatan dan pelaporan program P2TB Paru tahun 2008 sampai sekarang di Puskesmas Klirong I

2. Untuk melaksanakan observasi menggunakan Kuesioner.

3. Alat-alat yang dipakai adalah buku catatan lapangan,

F. Tekhnik Pengumpulan Data

Data primer berasal dari kuesioner sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen pencatatan dan pelaporan Program P2TB Paru Puskesmas tahun 2008.

Kuesioner dibagikan sendiri secara langsung ke semua PMO dan semua pasien TB Paru di wilayah Puskesmas Klirong I pada saat pasien mengambil obat dengan menunjukkan bungkus obat yang habis. Kemudian dilakukan recheck terhadap keabsahan jawaban yang diberikan dan dilakukan pengecekan dokumentasi. Bila PMO atau pasien berhalangan hadir mengambil obat, peneliti akan mendatangi rumah PMO atau pasien tersebut.

G. Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji Validitas merupakan uji untuk mengetahui kevalidan alat ukur, artinya ketepatan mengukur untuk mengukur sebuah variabel (Riwidigdo, 2008).

Setelah pengujian dari ahli dan berdasarkan pengalaman empiris di lapangan selesai maka diteruskan dengan uji coba instrument. Instrumen tersebut dicobakan pada sampel. Jumlah anggota sampel yang digunakan minimal 30 orang (Sugiyono, 2005).

Kuesioner tentang OAT Jenis FDC bagi pasien TB Paru diuji kevalidan dan reabilitasnya. Uji validitas dan reliabilitas diujikan pada kader yang bukan PMO dan belum dilatih PMO di wilayah Puskesmas Klirong I pada pertemuan rutin kader kesehatan di Aula Puskesmas Klirong I dengan jumlah 30 orang. Diujikan hanya 1 kali saja.

a. Validitas

Validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan instrument dalam mengumpulkan data. Instrumen harus mengukur apa yang seharusnya diukur.

Hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti (Sugiyono, 2005).

Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid (Sugiyono, 2005).

Uji validitas instrument yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus Korelasi Pearson Product Moment (Nursalam, 2003; Arikunto, 1998).

Rumus:

Keterangan:

X : r : koefisien korelasi

Y :

Parameter dari hasil uji r xy adalah besarnya koefisien korelasi pearson product moment antara 0,0 sampai 1 dikatakan valid bila besarnya r xy hitung lebih besar dari r xy table. Atau secara lebih mudah bila koefisien korelasinya lebih besar (>) dari 0,050. Uji korelasi dilakukan dengan cara mengkorelasikan item alat ukur dengan jumlah keseluruhan item alat ukur yang ada (Riwidikdo, 2008).

Setelah dilakukan uji validitas menggunakan rumus Korelasi Pearson Product Moment didapatkan 13 pertanyaan untuk pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan nilai r hitung lebih besar daripada nilai table (0,361) pada derajat signifikansi 5%. Kemudian dilakukan perbaikan pada jawaban (a, b, c dan d) pada semua soal lalu diujikan kembali dengan rumus yang sama dengan hasil 13 pertanyaan dinyatakan valid yaitu nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 11, 13, 14, 16, 17 dan 18 dengan nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,361). Maka selain soal tersebut diatas dinyatakan tidak valid/ dianulir.

b. Reliabilitas Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran dalam waktu pengukuran yang berlainan. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya dapat dipercaya (Nursalam, 2003, Arikunto, 1998).

Pengujian instrument penelitian ini menggunakan internal consistency dan akan diujikan hanya sekali.

Kuesioner

Untuk kuesioner hasil yang diperoleh akan dianalisis menggunakan metode Alpa Cronbach. Dengan instrument dikatakan reliable apabila nilai (a) hitung lebih besar dari nilai (a) table (0,361) pada derajat signifikansi 5%. Rumus yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha Cronbach.

Rumus:

Dengan keterangan:

r11 : reliabilitas instrument.

k : banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

∑σb² : jumlah varians butir.

σt² : varians total.

Hasil dari uji reliabilitas dengan Alpha Cronbach menghasilkan a sebesar 0,7399. Hal ini menunjukkan nilai a lebih besar dari a tabel (0,631) dengan derajat Signifikansi 5%. Sehingga dengan demikian kuesioner dapat digunakan dan penelitian.

H. Tekhnik Analisa Data

Analisa data yang digunakan yaitu dengan cara:

a. Pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC

1. Menghitung jumlah angket yang kembali

2. Memeriksa kelengkapan jawaban dari responden

3. Melakukan tabulasi data untuk masing-masing soal.

4. Menentukan skor tertinggi dari tiap soal

5. Menghitung presentase jawaban dengan skor tertinggi

6. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC yaitu data dianalisis secara manual.

Yaitu dengan rumus:

Jumlah benar

Nilai :_____________________x 100%

Jumlah nilai soal

7. Menentukan kedudukan presentase jawaban dengan kategori menurut Arikunto (1998), dengan kriteria:

≤ 40% : pengetahuan sangat kurang

40-55% : pengetahuan kurang

56-75% : pengetahuan cukup

>75% : pengetahuan baik

b. Kepatuhan pasien berobat

1. Melihat lembar kunjungan pengobatan pasien, Bila pasie datang mengambil obat dan menunjukkan bungkus obat yang habis diberi nilai (1), bila sebaliknya diberi nilai (0).

2. Melakukan tabulasi data untuk masing-masing soal:

c. Korelasi/ hubungan pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien menelan obat.

Untuk mengetahui Korelasi/ hubungan pengetahuan PMO tentang Pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien menelan Obat yaitu dengan menggunakan analisis korelasi bivariat untuk menganalisis korelasi dari keduanya. Korelasi bivariat yang akan digunakan oleh peneliti untuk menerangkan keeratan hubungan antara kedua variabel yang diteliti yaitu menggunakan uji statistik korelasi Chi Kuadrat.

Rumus:


Keterangan:

: Chi Square

o : frekuensi yang diperoleh dari hasil pengamatan sampel

: frekuensi yang diharapkan dalam sampel sebagai pencerminan dari frekuensi yang diharapkan dari populasi.

I. Personil yang melakukan

Personil yang melakukan penelitian ini yaitu mahasiswa semester II Prodi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Gombong.

J. Analisa Data

Catatan lapangan yang dikumpulkan selama penelitian merupakan laporan yang rinci dan deskriptif yang selanjutnya dilakukan penerjemahan data untuk menalar situasi, peristiwa dan interaksi yang diamati. Kemudian data dianalisa secara manual dan dikelompokkan sesuai dengan karakteristik data tersebut menggunakan Korelasi bivariat dengan SPSS Versi 11,5.

K. Jalannya Penelitian

Penelitian dilakukan pada tanggal 25 Agustus 2009 sampai dengan 4 Oktober 2009. Pengumpulan data dilaksanakan oleh peneliti dibantu oleh 1 orang asisten dan teman-teman perawat di Puskesmas Klirong I dengan cara menjadwalkan PMO dan pasien untuk mengambil obat dan memperlihatkan bungkus obat yang habis. Setelah PMO dan pasien datang, peneliti membagikan langsung kuesioner kepada PMO untuk kemudian diisi. Sebelum PMO dan pasien mengisi, terlebih dahulu dijelaskan cara pengisian kuesioner dan ceklist. Peneliti juga mengisi lembar TB. 01 dan TB. 05 untuk mengecek kepatuhan pasien menelan obat.

Kuesioner yang dibagikan bersifat pertanyaan tertutup dengan memilih salah satu jawaban dari 4 jawaban yang tersedia pada setiap soalnya dengan memberi tanda silang (X). Soal berjumlah 13 soal yang berisi tentang pengobatan TB Paru jenis FDC.

Kemudian dilakukan recheck terhadap keabsahan jawaban yang diberikan dan dilakukan pengecekan dokumentasi. Bila PMO atau pasien berhalangan hadir mengambil obat, peneliti akan mendatangi rumah PMO atau pasien tersebut. Bila pasien datang mengambil obat sesuai jadwal akan diberi dianggap patuh dan diberi nilai 1, bila sebaliknya akan dianggap tidak patuh dan diberi nilai 0.

Setelah kedua instrument penelitian diisi, kemudian dikumpulkan dan di cek kelengkapannya lalu ditabulasi dengan memberikan skor pada data-data yang masuk. Setelah data diperoleh maka dilakukan pengolahan data dengan pendekatan penelitian yang telah ditentukan peneliti pada rencana analisa data. Hasil dari pengolahan data kemudian dipergunakan untuk penyusunan laporan penelitian.

L. Keterbatasan penelitian

Penelitian ini hanya ditujukan untuk membuktikan bahwa adanya hubungan antara pengetahuan Pengawas Menelan obat (PMO) tentang pengobatan TB Paru jenis Fixed Dose Combination (FDC) dengan kepatuhan pasien berobat. Padahal kepatuhan pasien tidak hanya tergantung dari peran PMO saja tetapi dipengaruhi oleh peran perawat, pemegang program di Puskesmas Klirong I dan tingkat pengetahuan pasien itu sendiri.

M.Kesulitan Penelitian

Kesulitan yang dirasakan oleh peneliti yaitu waktu yang terbatas untuk penelitian disamping tugas-tugas kedinasan peneliti dan asisten peneliti di Puskesmas Klirong I. Masih banyaknya beban tugas akademik yang harus dijalani oleh peneliti sehingga agak mengganggu jalannya penelitian.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 2009 sampai dengan Oktober 2009 di Puskesmas Klirong I. Responden dalam penelitian adalah Pengawas Menelan Obat (PMO) Puskesmas Klirong I sebanyak 30 orang dan Pasien TB Paru dewasa sejumlah 30 orang.

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden

a. Karakteristik PMO

Jumlah terbesar responden PMO berumur 31 – 40 tahun yaitu sebanyak 12 orang (40 %). Jenis kelamin responden PMO terbesar yaitu laki-laki 18 orang (60 %). Pendidikan terakhir PMO paling banyak adalah 20 orang (66,7 %). Lama menjadi PMO sebagian besar selama 2 – 4 tahun sebanyak 21 orang (70 %), seperti pada tabel di bawah:

Tabel 4.1:

Karakteristik Pengawas Menelan Obat (PMO) di Puskesmas Klirong I Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n(30)

Karakteristik Frekuensi Prosentase

Umur 21 – 30 Tahun 7 23,3 31 – 40 Tahun 12 40

> 41 Tahun 11 36,7

Jenis kelamin Laki-laki 18 60

Perempuan 12 40

Pendidikan SMP 20 66,7 terakhir SMA 10 33,3

D III 0 0

S1 0 0 Lama jadi < 1 tahun 3 10

PMO 2 – 4 tahun 21 70

> 5 tahun 6 20

Pelatihan Sudah Pernah 7 23,3

PMO Belum pernah 23 76,7


Sumber: data primer

c. Karakteristik Pasien TB Paru

Dari tabel didapat data bahwa terbanyak 17 orang pasien TB Paru (56,66 %) berumur 21 – 30 tahun. Jenis kelamin Pasien TB Paru yang terbanyak adalah perempuan. Pendidikan pasien TB terakhir sebagian besar adalah SMA yaitu 20 orang (66,7 %). Lama pasien menderita TB Paru yang terbanyak adalah < 5 tahun yaitu 28 orang (93,3 %)

Tabel 4.2:

Karakteristik Pasien TB Paru Puskesmas Klirong I

Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)

Karakteristik Frekuensi Prosentase

Umur 21 – 30 Tahun 17 56,67

31 – 40 Tahun 10 33,33

> 41 Tahun 3 10

Jenis Laki-laki 5 16,67

Kelamin Perempuan 25 83,33

Pendidikan SMP 7 23,3

terakhir SMA 20 66,7

D III 3 10

S1 0 0

Lama < 1 tahun 28 93,3

Menderita 2–4 tahun 2 6,7

TB Paru > 5 tahun 0 0

Sumber: data primer

2. Analisis Univariat

a. Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Pengetahuan tentang pengobatan TB Paru jenis FDC yang dimiliki oleh PMO di Puskesmas Klirong I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3:

Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Puskesmas Klirong I Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)

Pengetahuan PMO Jumlah Prosentase

Baik 29 96,7

Cukup 1 3,3

Total 30 100

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 29 orang PMO (96,7 %) dari 30 orang PMO mempunyai pengetahuan yang baik tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dan 1 orang PMO (3,3 %) mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pengobatan TB Paru jenis FDC.

b. Kepatuhan Pasien berobat

Dalam pelaksanaannya kepatuhan menelan obat menggunakan lembar ceklist yang sudah dibagikan dan diisi oleh pasien serta menggunakan lembar kunjungan pengobatan pasien (TB.01 dan TB.03). Secara keseluruhan kepatuhan pasien menelan obat adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4:

Kepatuhan Pasien Berobat Puskesmas Klirong I Bulan

Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)

Kepatuhan Pasien Jumlah Prosentase

Patuh 17 orang 56,7 %

Tidak Patuh 13 orang 43,3 %

Total 30 orang 100

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 17 orang (56,7 %) dari 30 orang pasien telah mematuhi program pengobatan TB Paru dengan berobat di Puskesmas dan menelan obat FDC. Sedangkan 13 orang (43,3 %) tidak mematuhi program pengobatan dengan tidak berobat dan menelan obat FDC dibuktikan dengan pasien tidak datang ke Puskesmas untuk mengambil obat sesuai jadwal dan kesepakatan, pasien juga tidak menginformasikan alasan tidak bisa datang ke Puskesmas.

3. Analisis Bivariat

a. Hubungan Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Dengan Kepatuhan Pasien Berobat.

Untuk mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat, peneliti menggunakan perhitungan chi square dan hasilnya dapat dijelaskan pada tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5:

Hubungan Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru

Jenis FDC Dengan Kepatuhan Pasien Berobat Puskesmas

Klirong I Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)

Variabel Kepatuhan Pasien Berobat p value

Pengetahuan Patuh Tidak Patuh Jumlah

n % n % n % Baik 16 53,4 13 43,3 29 96,7

Cukup 1 3,3 0 0 1 3,3 0,374

Jumlah 17 56,7 13 43,3 30 100 Sumber: Data Terolah, 2009

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui tidak ada hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat di wilayah kerja Puskesmas Klirong I yaitu 16 orang (53,4 %) pasien TB Paru yang patuh berobat memiliki PMO dengan pengetahuan yang baik, sedangkan sebanyak 13 orang (43,3 %) pasien TB Paru tidak patuh berobat dan memiliki PMO dengan pengetahuan baik. Sebanyak 1 orang (3,3 %) pasien TB Paru yang patuh berobat dan memiliki PMO dengan pengetahuan yang cukup sedangkan tidak ada pasien (0 %) yang tidak patuh berobat dan memiliki PMO dengan pengetahuan yang cukup.

b. Hasil Uji Statistik Hubungan Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Dengan Kepatuhan Pasien Berobat Di Wilayah Kerja Puskesmas Klirong I.

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa menggunakan chi square dengan hasil approx signifikansi sebesar 0.374. Dengan signifikansi < 0,005 maka Ha ditolak dan Ho diterima yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan dari hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat di wilayah kerja Puskesmas Klirong I. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Riwidikdo (2008) yang menerangkan bahwa bila hasil p > 0,05 artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara dua variabel yang diujikan.

C. Pembahasan

1. Karakteristik responden

Gambaran umum responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden PMO berumur 31 – 40 tahun yaitu sebanyak 12 orang (40 %), kelompok umur PMO berusia 21 – 30 tahun sebanyak 7 orang (23,3 %) dan kelompok umut berusia > 40 tahun sebanyak 11 orang (36,7 %). Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Basuki (2005) bahwa PMO dengan usia 32 – 40 tahun di Puskesmas mecapai 41,18 %, sedangkan usia < 30 tahun hanya 35,29 % dan usia > 40 tahun juga hanya 23,53 %. Pada interval umur tersebut merupakan umur yang produktif identik dengan idealisme yang tinggi, semangat kerja yang meningkat dan penuh optimisme. Pada kategori ini seorang PMO memiliki kinerja atau semangat pengabdian yang tinggi, mudah diajak kerjasama dengan tenaga kesehatan setempat untuk mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang Pengawas Menelan Obat agar PMO bisa memberikan penyuluhan kepada masyarakat secara umum dan khususnya kepada pasien TB Paru.

Gambaran jenis kelamin PMO adalah sebagian besar PMO berjenis kelamin laki-laki yaitu 18 orang (60 %) sedangkan lainnya 12 orang (40 %) berjenis kelamin perempuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Basuki (2005) bahwa sebagian besar PMO adalah pasangan dari pasien TB sendiri suami atau istrinya dan kader kesehatan setempat. Pendapat dari Depkes (2001) yaitu semua orang dapat menjadi PMO antara lain keluarga penderita, kader kesehatan, petugas kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain dengan syarat bersedia disetujui serta dapat meyakinkan penderita. Penunjukan PMO yang pertama kali dilihat adalah kesanggupan keluarga (suami atau istri, anak, orang tua dan lain-lain) untuk menjadi PMO bagi anggota keluarganya sendiri. Bila tidak ada yang bersedia menjadi PMO barulah kita mencari dari tetangga sekitar atau kader kesehatan dan seterusnya.

Gambaran pendidikan sebagian besar responden PMO berpendidikan SMP yaitu sebanyak 20 orang (66,7 %) sedangkan yang berpendidikan SMA hanya 10 orang (33,3 %). Green cit Notoatmojo (1993) berpendapat bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang menjadi dasar untuk melaksanakan tindakan.Wajib belajar sembilan tahun (6 tahun SD dan 3 tahun SMP) yang dicanangkan pemerintah sudah diterapkan di wilayah kerja Puskesmas Klirong I sehingga tidak menjadi halangan bagi seorang PMO untuk memberikan motivasi dan pengawasan kepada pasien TB Paru. Untuk metode program pengobatan TB Paru, PMO mendapat pelatihan singkat dari pemegang program TB Paru atau tenaga kesehatan yang ada di puskesmas.

Gambaran lama menjadi PMO adalah sebagian besar PMO memiliki lama waktu menjadi seorang PMO yaitu 2 – 4 tahun sebanyak 21 orang (70 %) sedangkan lama menjadi PMO < 1 tahun hanya 3 orang (10 %) dan lama menjadi PMO > 5 tahun hanya 6 orang (20 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumarwanto (2008) bahwa lama waktu menjadi PMO sesuai dengan lama waktu menjadi kader kesehatan di Puskesmas yang sekaligus menjadi lama waktu menjadi PMO. PMO yang berasal dari kader kesehatan sekaligus menjadi seorang PMO bagi pasien TB di sekitar tempat tinggalnya, selain itu ada beberapa wilayah desa yang menjadi kantong-kantong dominasi Pasien TB Paru sehingga dimungkinkan seseorang beberapa kali menjadi PMO bagi pasien TB Paru yang berbeda di wilayah desanya.

Gambaran pernah mengikuti pelatihan PMO adalah sebanyak 7 orang PMO (23,3 %) sudah pernah dilatih menjadi PMO sedangkan 23 orang (76,7 %) belum pernah mengikuti pelatihan PMO. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumarwanto (2008) bahwa PMO yang berasal dari kader kesehatan sudah pasti mendapat pelatihan PMO dari Puskesmas setempat. Selain itu bagi PMO yang belum pernah mendapat pelatihan PMO mendapat penyuluhan singkat (short course) tentang PMO oleh petugas kesehatan yang menjadi pemegang progam di Puskesmas setempat.

Gambaran responden dari pasien TB Paru sebagian besar berumur 21 – 30 tahun berjumlah 17 orang (56,67 %) sedangkan yang berumur 31 – 40 tahun berjumlah 10 orang (33,33 %) dan yang berumur > 40 tahun berjumlah 3 orang (10 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Depkes (2001) bahwa mayoritas penderita TB Paru adalah dengan usia produktif yaitu 21 – 30 tahun. Peneliti berasumsi selain penderita dengan usia produktif juga penderita biasanya mudah kelelahan akibat aktifitas sehari-harinya, sehingga daya tahan tubuhnya menjadi menurun. Selain itu, lokasi tempat kerja penderita memicu terjadinya TB Paru.

Gambaran jenis kelamin pasien TB Paru sebagian besar adalah perempuan berjumlah 25 orang (83,33 %) sedangkan laki-laki hanya berjumlah 5 orang (16,67). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa perempuan mendominasi jumlah penderita TB Paru. Peneliti berasumsi bahwa perempuan lebih mudah kelelahan dibandingkan laki-laki sehingga daya tahan mudah sekali menurun dan mudah terkena TB Paru.

Gambaran tingkat pendidikan pasien TB Paru sebagian besar memiliki tingkat pendidikan SMA yaitu berjumlah 20 orang (66,7 %) sedangkan pasien yang memiliki tingkat pendidikan SMP berjumlah 7 orang (23,3 %), pendidikan DIII berjumlah 3 orang (10 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa tingkat pendidikan SMA lebih banyak terkena TB Paru dikarenakan pengetahuan mereka tentang pencegahan TB Paru masih kurang. Peneliti berasumsi pasien dengan tingkat pendidikan SMA lebih mudah bergaul dengan orang-orang yang perokok aktif, bekerja di lokasi dengan asap, debu dan bahan-bahan yang merusak saluran pernapasan.

Gambaran pasien dengan lama menderita TB Paru sebagian besar < 1 tahun yaitu berjumlah 28 orang (93,3 %) sedangkan pasien yang menderita 6 – 10 tahun berjumlah hanya 2 orang (6,7 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sumarwanto (2008), Basuki (2005) dan Frida Noor (2008) bahwa sebagian besar pasien TB Paru adalah kasus penemuan baru dengan lama menderita < 1 tahun. Peneliti berasumsi pasien TB Paru dengan lama menderita lebih dari 1 tahun termasuk pasien TB paru yang kambuh, gagal berobat dan mangkir atau tidak patuh berobat.

2. Analisis Univariat

a. Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Pengetahuan tentang pengobatan TB Paru jenis FDC yang dimiliki oleh PMO di Puskesmas Klirong I .

Pada penelitian ini seluruh PMO 30 orang (100 %) yang menjadi responden mempunyai pengetahuan yang baik (96,7 %) dan cukup (3,3 %) tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan 17 orang pasien (56,7 %) mematuhi program pengobatan TB Paru dan 13 orang pasien (43,3 %) tidak mematuhi pengobatan. Pengetahuan dapat memberikan bekal kognitif atau sebagai dasar bagi seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Hal ini sesuai dengan tingkat domain kognitif yaitu aplikasi seseorang mengaplikasikan sesuatu yang ia ketahui dalam mengetahui suatu kondisi (Notoatmojo, 1997).

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa peran PMO sangat penting dalam mengawasi pasien menkonsumsi obat anti TBC terutama PMO yang tidak tinggal serumah dengan pasien harus selalu rutin memantau pengobatannya. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumarwanto (2008) bahwa pengetahuan tentang TB Paru terutama pengobatannya harus dimiliki oleh seorang PMO khususnya PMO yang berasal dari kader. Hal ini dimaksudkan supaya pasien lebih banyak mendapatkan informasi tentang TB Paru dan pengobatannya dari PMO, karena PMO adalah orang yang terdekat dengan pasien.

b. Kepatuhan Pasien berobat

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan hasil bahwa ada 17 orang pasien (56,7 %) mematuhi program pengobatan dan 13 orang pasien (43,3 %) tidak mematuhi pengobatan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah peran PMO dalam mendampingi dan memotivasi pasien untuk selalu mematuhi pengobatan TB Paru. Diantara 30 orang PMO yang berpendidikan SMA adalah 10 orang (33,3 %) dan berpendidikan SMP 20 orang (66,7 %). Hal ini berpengaruh kepada pasien yang berpendidikan D III sejumlah 3 orang (10 %), SMA sejumlah 20 orang (66,7 %) dan SMP berjumlah 7 orang (23,3 %) terutama dalam proses penyampaian komunikasi, informasi, edukasi dan motivasi kepada pasien. Diantara ketidakpatuhan pasien yang diteliti ada beberapa yang tidak dipenuhi oleh pasien dalam pengobatan misal: jumlah obat yang ditelan, seharusnya jumlah obat yang ditelan 3 tablet tetapi yang diminum cuma 2 tablet, tidak berkunjung ke Puskesmas untuk mengambil obat, tidak menunjukkan pembungkus bekas obat yang diminum dan tidak menelan obat sesuai aturan pengobatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa tingkat pendidikan PMO berpengaruh terhadap kepatuhan pasien TB Paru dalam program pengobatannya. Peneliti berasumsi selain tingkat pendidikan atau pengetahuan PMO, pengetahuan pasien, keluarga pasien, peran perawat di Puskesmas dan jarak lokasi tempat tinggal dengan Puskesmas juga sangat mempengaruhi kepatuhan pasien berobat.

3. Analisis Bivariat

Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa menggunakan chi square dengan hasil approx signifikansi sebesar 0.374. Dengan signifikansi > 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat di wilayah kerja Puskesmas Klirong I. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Riwidikdo (2008) yang menerangkan bahwa bila hasil p > 0,05 artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara dua variabel yang diujikan. Penelitian yang dilakukan oleh Noor (2008) mengatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan PMO terutama yang berasal dari keluarga pasien dengan kepatuhan pasien menelan obat. PMO yang berasal dari keluarga terbukti sangat efektif dalam membantu mendukung kepatuhan pasien berobat. Hubungan kedekatan atau kekeluargaan, kepercayaan dan ketelatenan PMO dari sangat mempengaruhi kepatuhan pasien berobat. Anggota keluarga pasien yang ditunjuk sebagai PMO harus benar-benar mengetahui informasi tentang pengobatan TB Paru dan benar-benar memantau pengobatannya. Tetapi PMO yang berasal bukan dari keluarga pasien belum tentu membantu pasien untuk patuh berobat.

Hasil ini sesuai dengan asumsi peneliti, bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC ini dengan kepatuhan pasien berobat, sehingga walaupun pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru baik tetapi tidak menjamin pasien patuh berobat di Puskesmas. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan pasien, pengetahuan keluarga, peran perawat Puskesmas, usia PMO dan pasien serta jarak tempuh lokasi tempat tinggal pasien dengan Puskesmas. Pengetahuan pasien yang kurang menimbulkan kesadaran untuk berobat menjadi kurang. Pasien tidak mengetahui alasan berobat dan akan berhenti berobat bila keadaan tubuhnya dirasa membaik. Pasien yang berobat ke Puskesmas akan menjadi tidak patuh bila keluarga pasien tidak mendukung anggota keluarganya yang sakit untuk berobat. Jadi, keluarga harus selalu memotivasi pasien untuk berobat dan menjadi sembuh. Peran perawat di Puskesmas juga harus selalu memotivasi PMO dan pasien. Perawat juga harus memberikan informasi yang lengkap dan jelas kepada PMO dan pasien. Usia pasien yang terlalu tua akan menghambat kepatuhan pasien berobat. Kelemahan tubuhnya akan sulit dan lupa menerima informasi dari PMO dan perawat, sehingga dosis pengobatan,cara minum obat, saat minum obat menjadi tidak sesuai dengan informasi yang telah diberikan. Jarak tempuh lokasi tempat tinggal pasien dengan Puskesmas juga menjadi hambatan pasien untuk patuh berobat. Alasan jauh, ekonomi dan sulitnya mendapatkan kendaraan umum atau tumpangan menjadi sulitnya pasien berkunjung ke Puskesmas untuk mengambil obat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan Pengawas Menelan Obat (PMO) tentang pengobatan TB Paru jenis Fixed dose Combination (FDC) dengan kepatuhan pasien berobat setelah dianalisis menggunakan chi square yaitu dengan nilai signifikansinya 0.374. Pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru yang baik tidak menjamin pasien patuh berobat di Puskesmas. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan pasien, pengetahuan keluarga, peran perawat Puskesmas, usia PMO dan pasien serta jarak tempuh lokasi tempat tinggal pasien dengan Puskesmas.

B. Saran

Saran yang dapat peneliti sampaikan adalah:

1. Agar Pengawas menelan Obat (PMO) selalu memperbanyak informasi tentang penyakit TB Paru terutama pengobatannya dan selalu aktif bertanya kepada petugas kesehatan terutama pemegang program TB Paru di Puskesmas setempat.

2. Agar perawat atau tenaga kesehatan terutama bidan pemegang wilayah di Puskesmas selalu memberikan promosi kesehatan secara aktif tentang TB Paru kepada PMO, pasien dan keluarganya.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan pasien TB Paru dalam menelan obat.

4. Untuk pengambil kebijakan agar selalu memprioritaskan penyakit TB Paru yaitu memasukkan program penanggulangan TB Paru dalam anggaran pusat maupun daerah selain anggaran dari WHO/ Global Fund terutama dalam pengadaan logistic obat Fixed Dose Combination (FDC).

DAFTAR PUSTAKA

Basuki, 2007, Peran PMO Pada Penderita TBC Dalam Mengkonsumsi Obat Anti Tuberculosis di Wilayah Puskesmas Sempor I dan II, Kebumen, STIKES Muhammadiyah Gombong.

Departemen Kesehatan RI, 2002, Pedoman Program Penanggulangan Tuberculosis, Jakarta, Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI, 2008, Pedoman Program Penanggulangan Tuberculosis (Edisi 2, Cetakan kedua), Jakarta, Depkes RI.

Hartanto, dr, Laporan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah pada Rakerkesda Propinsi Jawa Tengah di Salatiga 30 – 31 Oktober tahun 2007

Irawan,Prasetya, Dr, M.Sc, 2003, Logika Dan Prosedur Penelitian Pengantar Teori dan Panduan Praktis Penelitian Sosial Bagi Mahasiswa dan Peneliti Pemula, Lembaga Administrasi Negara Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Press

Noor, Frida Ani, 2008, Hubungan PMO Keluarga dengan Kepatuhan Menelan Obat Pada Penderita yang Mendapat Program DOTS di Puskesmas Mojo, Surabaya, Surabaya, Universitas Airlangga Surabaya,

Phapros, 2007, Pedoman Pengobatan OAT FDC Kategori ! dan II, Jakarta, Phapros.

Qosim, Ahmad, 2007, Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Prinsip Lima Benar dan penerapannya di RSU PKU Muhammadiyah Gombong, Kebumen, STIKES Muhammadiyah Gombong.

Riwidikdo, Handoko, SKp, 2008,Statistika Terapan DenganProgram R Versi 2.5.1 (Open Source) Bidang Kesehatan dan Umum, Jogjakarta, Mitra Cindikia Press.

Rahmat, Haikin,dr, 2000, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberculosis Fixed Dose Combination (FDC) Untuk Pengobatan Tuberculosis di Unit Pelayanan Kesehatan, Jakarta, Depkes RI.

Sumarwanto, 2008, Tingkat Pengetahuan Kader Tentang Penyakit TBC di Puskesmas Klirong II, Kebumen, STIKES Muhammadiyah Gombong.

Sugiyono, Prof, DR, 2005, Metode Penelitian Administrasi, Bandung, Alfabeta Bandung.

(www.dinkesjateng.org/rakerkesda07/laporan_kl pdf.accessed 2 April 2009, 17.15).





Tidak ada komentar: