Minggu, 18 September 2011

PENATALAKSANAAN PENYAKIT PADA SISTEM GENITO URINARIA

PENATALAKSANAAN PENYAKIT

PADA SISTEM GENITO URINARIA

Oleh: Triyo Rachmadi, S.Kep.


Pokok bahasan 8 akan membahas penyakit-penyakit yang mengenai sistem genitourinaria atau sistem perkemihan. Kasus ini juga cukup sering ditemui. Oleh karena itu pemberian materi ini cukup penting dalam pelatiham PKD.

Pada pokokmbahasan ini akan disampaikan materi sebagai berikut:

1. Sistitis

2. Pielonefritis

3. Gonore

4. Uretritis

POKOK BAHASAN 8 : PENYAKIT SISTEM GENITOURINARIA

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN SISTITIS

WAKTU SESI : 1 jam pelajaran @ 45 menit

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengenali dan menangani pasien dengan Sistitis

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti sesi ini diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Sistitis
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Sistitis
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis dan diagnosis banding Sistitis
  4. Peserta dapat mengenali dan menjelaskan penanganan serta merujuk penderita Sistitis

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

  1. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan
  2. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

  1. Pelatih menjelaskan materi pelatihan
  2. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi
  3. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu
  4. Pelatih melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan shok

Langkah 3. diskusi /tugas individu atau kelompok

  1. Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi
  2. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas/kasus
  3. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed. ), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.



Rounded Rectangle: Pokok bahasan 1  SISTITIS


SISTITIS

I. Definisi

Suatu kondisi dengan karakteristik adanya radang pada ginjal yang ditandai oleh disuria dan kencing frekuensis dan tanpa gangguan sistemik yang banyak ditemukan pada wanita karena adanya perubahan akevitas seksual. Nyeri saat kencing dan sering kencing tanpa panas badan atau nyeri kandung kencing mungkin terkait dengan beberapa macam penyakit. Dari kultur ditemukan 100.000 kolonis per lapangan pandang mikroskop menunjukkan adanya infeksi bakteri, bila dibawah 1000 kolonis patogenik bakteri menunjukkan adanya gejala infeksi saluran kencing pada wanita.

II. Etiologi

  1. Bakteri ditemukan pada 60-70% pasien dengan gejala sistitis dan yang terbanyak adalah Escherichia coli dan Staphylococcus saprophyticus dan organisme gram positif ditemukan pada sebagian kecil pasien Pada pasien wanita dengan infeksi traktus urinarius berasal dari vestibulum vaginae yang masuk melalui uretra atau aktivitas seksual mendorong masukya bakteri .
  2. Bakteri non patogen antara lain Chlamedia

III. Gambaran klinis

1.Gejala

a. Dysuria/nyeri saat kencing, sering kecing

b. Sering adanya kencing darah

c. Kadang ada nyeri pinggang, tanpa nyeri kostovertebral

d. Tanpa

e. Sering tanpa gejala gangguan gastrointestinal

f. Tanpa adanya lendir pada vagina

2.Tanda

    1. Tanpa demam atau suhu dibawah 37, 8 C
    2. Hanya ada rasa tidak enak pada perut
    3. Tanpa tanda-tanda pada daerah peritoneal
    4. Suara usus normal
    5. Tanpa adanya rasa tidak enak pada daerah costovertebral
    6. Sebagian ditemukan keluhan kencing sedikit atau kegagalan

IV. Laboratorium

1.Urinalisis : Prosentase darah merah dan putih dan bakteri

2. Urine kultur

V. Diagnosis banding

1. Sistitis ulang

Pasien mungkin merasakan gejala sistitis tetapi bila ada serangan ulang dapat dilakukan perbedaan antara relap dengan infeksi ulang.

a.Relaps

1) .Kadang ditemukan infeksi dalam waktu beberapa minggu

2) Bakteri yang didapatkan dari kultur sama dengan yang didapatkan dari episode sebelumnya

3) Bakteri yang didapatkan dari kencing mungkin terbungkus antibodi yang menunjukkan adanya invasi pada parensim yang meliputi ginjal

4) Adanya pielonepritis, kelainan anatomik atau neprolitiasis mengarahkan kepada infeksi dengan pengobatan yang tidak adekuat.

5) Membutuhkan pengobatan antibiotika jangka panjang

b. Reinfeksi

1) Terjadinya secara sporadik dan tidak ada hubungan dengan infeksi sebelumnya

2) Bateri yang ditemukan tidak sama dengan yang ditemukan selama infeksi sebelumnya

3) Bakteri yang ditemukan tidak terbungkus oleh antibody

4) Memberikan kesan bentuk ginjal dimana masuknya bakteri

5) Memberi respon yang baik terhadap pemberian antibiotika

2 . Pielonepritis

Pasien tampak kesakitan, sakit pada saat kencing, gejala ini mungkin tertutupi oleh gejala sistemik karena adanya panas dan sakit daerah panggul

3. Vaginitis

Keluhan lebih dominan pada daerah vaginal dengan adanya disuria dan sering kencing

4.Uretritis

Disuria merupakan keluhan utama, adanya lendir mungkin sampai keluar nanah sering ditemukan pada wanita

5.Kelainan abdomen akut

6.Servikitis

7.Salpingitis

VI. Pengobatan

1.Bila ditemukan relaps atau adanya pielonepritis rujuk kedokter

a. Pemberian single dosis Sulfisoksasol, Sulfametoksasol atau pemberian amoksislin efektif untuk pengobatan sistitis. Pemberian obat untuk 3 hari merupakan penyebab terjadinya relaps. Pemberian 0bat 3 hari untuk pengobatan single dosis antara lain:

a).Gejala paling sedikit 3 hari

b).Vaginitis atau infeksi pada saluran atas

c).Tanpa adanya komplikasi misalnya Diabetes Militus, batu saluran kencing, kelainan anatomic, hamil dan infeksi ulang

b. Antibiotik

Pemberian antibiotika dengan menggunakan obat sbb:

1). Ampisilin 500 mg tiap 6 jam 3 hari

2). Trimetoprim 80 mg dan sulfametoksasol 400mg atau dosis forte berikan dua tablet dewasa atau 1 tablet forte 2 kali sehari untuk 3 hari

3).Tetrasiklin 250 4 kali sehari untuk 10 hari

3. Infeksi saluran kencing pada kehamilan

Pengobatannya :

1).ampisilin

2) cepaleksin

3).Nitrofurantoin 100 mg 4 kali sehari selama 10 hari

4).Kotrimoksasol

VII. Komplikasi

a. Infeksi kronik

b. Pielonepritis

VIII. Konsultasi dan rujukan

1. Kegagalan pengobatan dalam jangka waktu 3-4 hari

2. Sistitis ulang:

a. Infeksi ulang dalam 2 mgg

b. Lebih dari 3 kali episode dalam 1 tahun

3. Ditemukan dari kultur adanya bakteri patogen

4. Semua wanita dengan sistitis

5. Pasien dengan DM atau diketahui ada batu

IX. Tindak lanjut

Untuk pasien dengan tanpa gejala tidak perlu dilakukan kultur urine rutin sesudah pengobatan AB.









Tugas individu

  1. Bagaimana anda menentukan diagnosis pasien dengan sistitis di puskesmas /polindes ?
  2. Bagaimana penanganan pasien dengan sistitis di Puskesmas anda (cari informasi di Bp /perawat/dokter )?
  3. Mengapa pasien wanita dengan sistitis harus dikonsultasikan kedokter? Kapan sebaiknya pasien tersebut dirujuk/dikonsultasikan kedokter ?



Text Box: Tugas kelompok Diskusikan dalam kelompok  1. Menurut anda bagaimanakah penatalaksanaan  wanita hamil muda dengan sistitis ? 2. Perlukah mendapatkan antibiotika ? Bagaimana pengaruh antibiotika pada janin ? 3. Nasehat apa yang anda berikan kepada wanita hamil tersebut ?      4. Buatlah jawaban anda seringkas namun jelas lalu kirimkan lewat email



Latihan

Jawablah pertanyaan berikut secara ringkas dan jelas

  1. Bagaimana tanda-tanda infeksi relaps dan reinfeksi pada sistitis?
  2. Apa perbedaan utama pasien relaps dan reinfeksi ?
  3. Apa penyebab terbanyak dari Sistitis?
  4. Bagaimana prinsip pengobatan pasien dengan pielonepritis atau relaps ?
  5. Bagaimana pengobatan ibu hamil dengan Sistitis?


POKOK BAHASAN 8 : PENYAKIT SISTEM GENITOURINARIA

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN PIELONEFRITIS AKUT

WAKTU SESI : 1 jam pelajaran @ 45 menit

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengenali dan menangani pasien dengan Pielonefirtis Akut

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti sesi ini diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Pielonefritis Akut
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Pielonefritis Akut
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis dan diagnosis banding Pielonefritis Akut
  4. Peserta dapat mengenali dan menjelaskan penanganan serta merujuk penderita Pielonefritis Akut

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

  1. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan
  2. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

  1. Pelatih menjelaskan materi pelatihan
  2. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi
  3. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu
  4. Pelatih melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan shok

Langkah 3. diskusi /tugas individu atau kelompok

  1. Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi
  2. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas/kasus
  3. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed. ), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

PIELONEPHRITIS AKUT

I. Definisi

Pielonephritis adalah penyakit infeksi yang mengenai system kolekting dan jaringan parenkim ginjal

II. Etiologi

Penyebab infeksi adalah golongan Bakteri terutama gram negatif dan tersering adalah Escherichia colli

III. Gejala klinik

A. Gejala

1. Paling sering nyeri panggul

2. Kadang – kadang menggigil, kedinginan

3. Kadang – kadang mual atau mutah atau keduanya

4. Dysuria, kencing sering (frequency), nyeri panas /nyeri (urgency).

5. Tidak ditemukan lendir atau cairan pada vagina dan urethra.

B. Tanda

1. Selalu disertai dengan demam suhu 38,5 C

2. Nyeri tekan pada perkusi diatas daerah sudut costovertebra

3. Pemeriksaan abodominal tidak ditemukan kelainan kecuali pada penekanan / palpasi pada daerah panggul

4. Pasien pada umumnya merasakan seluruh badanya sakit / sangat sakit

IV. Laboratorium

(dengan menggunakan spesimen kencing yang steril)

1. Hasil urinalisia didapatkan adanya sel darah putih, sel cast putih, proteinuria dan sel darah merah

2. Kultur urin didapatkan hitung jumlah koloni lebih 100.000 bakteri patogen.

V. Diagnosis banding

A. Sistitis

B. Prostatitis

C. Beberapa penyakit lain yang menyerang panggul

VI. Pengobatan

A. Antibiotika

Amoksilin 500 mg 3 kali sehari untuk 10 hari

B. Pasien dimonitoring secara terus menerus . Jika ada masalah terkait dengan muntah-muntah berikan medikasi bila diperlukan.

C. Antibiotika mungkin perlu diganti berdasarkan response klinik dan berdasarkan hasil tes sensitivity terhadap organisme.

VII. Komplikasi

Pieloneprhritis kronis

VIII. Konsultasi dan rujukan

A. Sakit berat atau keracunan :

B. Pasien dengan Diabetes Militus

C. Pasien dengan tingkat debil atau

D. Kultur positif pada pemeriksaan lanjutan

IX. Tindak lanjut

1. Pasien harus sering dikontak dengan telepon dalam 24 jam kemudian setiap hari atau setiap hari sampai tidak tanpa gejala.

2. Ulangi pemeriksaan laboratorium 1 minggu sesudah pengobatan.

3. Pemeriksaan ulang kedua sekitar 6 bulan bila diinginkan.



Rounded Rectangle: Tugas Individu 1. Mengapa pada penderita ini pada gejalanya ditanyakan adanya lendir dan cairan ? 2. Pada penyakit apa kemungkinan ditemukan adanya lendir dan cairan pada vagina ?







Rounded Rectangle: Tugas KELOMPOK  1. Apa perbedaan antara  uretritis GO dan pielonepritis? 2.  Bagaimana pengobatan di Puskesmas ? 3. Bagaimana komentar anda dengan pengobatan tersebut ?



Rounded Rectangle: Latihan   1. Sebutkan tanda Pielonepritis?  2. Sebutkan gejala gari Pielonepritis ? 3. Apa diagnosis banding dari Pielonepritis? 4. Bagaimana terapinya? 5. Kapan anda melakukan konsultasi ?


POKOK BAHASAN 8 : PENYAKIT SISTEM GENITOURINARIA

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN GONORE

WAKTU SESI : 1 jam pelajaran @ 45 menit

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengenali dan menangani pasien dengan Gonore

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti sesi ini diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Gonore
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Gonore
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis dan diagnosis banding Gonore
  4. Peserta dapat mengenali dan menjelaskan penanganan serta merujuk penderita Gonore

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

  1. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan
  2. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

  1. Pelatih menjelaskan materi pelatihan
  2. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi
  3. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu
  4. Pelatih melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan shok

Langkah 3. diskusi /tugas individu atau kelompok

  1. Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi
  2. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas/kasus
  3. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed. ), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

INFEKSI GONOCOCCUS

I. Pengertian

Infeksi Gonococcus pada Traktus Genitourinarius, oroparing atau anorektum. Infeksi uretra mungkin muncul dengan tidak adanya gejala pada infeksi paringitis atau infeksi rectal pada orang yang biasa melakukan kontak sesual dengan orogenital. Jarang paringitis atau proktitis memberikan keluhan..

II. Penyebab

1. Neisseria Gonorrhoeae

2. Neisseria Gonorrhoeae resistensi terhadap antibiotika

3. Munculnya infeksi Chlamedia sampai 45 % dari pasien

III. Gambaran Klinis

1. Laki-laki

Infeksi awal pada urethra, pharing atau anorektal

1. Sering tanpa gejala

2. Uretritis, terjadi hanya beberapa hari

a. Disuria

b. Keluarnya lendir purulen

3. Pharingitis karena kontak orogenital

4. Infeksi anorektal:

a. Daerah anorektal terasa terbakar

b.Keluarnya cairan/lendir purulen

c. Rasa sakit bila sedang kotoran

2. Wanita

Infeksi awal mungkin pada uretra, endoservikal , pharyngeal atau anorektal

a. Kadang tanpa gejala

b. Uretritis (disuria, sering kencing)

c. Radang salping / salpingitis (saluran telur)

1). Nyeri pada daerah kanan –kiri perut bawah

2). Adanya rasa berat pada daerah adneksa

3). Adanya rasa berat pada saat dilalkukan manipulasi pada daerah servik

4). Kadang-kadang merasakan sakit pada daerah kanan atas

5). Pharingitis karena kontak orogenital

6). Infeksi anorektal

IV. Pemeriksaan Laboratorium

A. Kuman Gram dari cairan pada laki dan wanita

B. VDRL tes

C. Pemeriksaan dengan pada kasus yang tidak ditemukan kuman gram positif yang diambol dari pahring, anus, uretra atau endoserviks.

D. Kultur Chlamedia

V. Diagnosis Banding

1. Non gonococcus urethritis

2. Infeksi traktus urinarius

3. Gejala akut daerah abdominal karena infeksi salpingitis

4. Prostatitis non Gonococcus

VI. Pencegahan

1. Konseling dengan pasien untuk menggunakan kondom dan menghindari gaya hidup yang beresiko tinggi

2. Konseling untuk cepat berobat bila didapatkan infeksi ulang atau kambuh.

3. Konseling untuk segera memberikan informasi bila ada kontak

4. Menghentikan aktivitas seksual untuk paling tidak 48 jam

VII. Pengobatan

1. Pasien dengan hasil pemeriksaan cairan didapatkan Dilococcus Gram Negatif baik intraseluler atau ekstraseluler

2. Pasien yang diketahui telah diketahui terkena Go.

3. Pasien dengan kultur positif

Obat-obatan infeksi

1. Therapi utama / terpilih :

Ceftriaxone 250 mg

Dengan Doxycicline 100 mg dosis 2 kali sehari selama 7 hari

2. Therapi pilihan;

a. Tetrasiklin 500 mg 4 kali selama 7 hari

Dengan subsitusi Doxyciclin 4 kali

b.Untuk pasien yang tidak tahan terhadap Terasiklin dapat diberikan Erytrominsin 500 mg 4 kali sehari selama 7 hari

VIII. Komplikasi

Berhubungan dengan :

1. Striktur uretra

2. Striktur rectal

IX.Konsultasi dan Rujukan

1.Pharingitis

2.Proktitis

3.Akut abdominal atau Salpingitis

4.Tender

5.Demam (37,8C)

6.Artritis

7.Perluasan infeksi GO dengan luka pada kulit

8.Endokartitis

9.Pemeriksaan kultur atau terjadi retesi

10. Curiga adanya ensim Penisilinase.

X. Tindak Lanjut

Kultur ulang 1- 2 bulan untuk mendapatkan terjadinya kegagalan terapi infeksi.

1. Laki-laki : kultur cairan uretral

2. Wanita kultur cairan servikal dan anus

Rounded Rectangle: Tugas individu   1. Menurut anda apa perbedaan gejala yang utama antara infeksi Go pada wanita dan pria ? Jelaskan  ? 2. Bagaimana pemeriksaan yang penting dalam menentukan diagnosis GO  3. Mengapa dapat terjadi infeksi pharingitis GO ?




Rounded Rectangle: Tugas kelompok  1. Apa yang dimaksud dengan ping-pong phenomen ? Mengapa terjadi hal tersebut 2.  Bagaimana menurut anda untuk mengatasinya ? Nasehat apa yang akan  anda  berikan  pada keluarga tersebut ?


Latihan

1. Apa resiko wanita dengan GO yang hamil ??

2. Bagaimana pananganan pasien dengan GO ? ?

3. Apa diagnosis penting dari penyakit GO?

4. Pemeriksaan penunjang apa yang penting dilakukan ? Menurut anda apa yang harus ditemukan dalam spesimen tersebut ?

5. Komplikasi apa yang menurut anda paling berat ?


POKOK BAHASAN 8 : PENYAKIT SISTEM GENITOURINARIA

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN URITRITIS NON GONORE

WAKTU SESI : 1 jam pelajaran @ 45 menit

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengenali dan menangani pasien dengan Uretritis Non Gonore

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti sesi ini diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Uretritis Non Gonore
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Uretritis Non Gonore
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis dan diagnosis banding Uretritis Non Gonore
  4. Peserta dapat mengenali dan menjelaskan penanganan serta merujuk penderita Uretritis Non Gonore

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

a. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan

b. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

a. Pelatih menjelaskan materi pelatihan

b. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi

c. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu

d. Pelatih melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan shok

Langkah 3. diskusi /tugas individu atau kelompok

a. Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi

b. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas/kasus

c. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed. ), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

URETRITIS NON GONORE

I. Definisi

Infeksi pada uretra yang disebabkan bukan oleh Neisseria Gonorroeae

II.Etiologi

Chlamydia merupakan penyebab lebih separo dari kasus Sedang kasus sisa penyebabnya belum dapat diidentifikasi.

III.Gambaran klinis

A.Gejala

a. Berbeda dengan GO pada infeksi ini telah timbul gejala pada 1- 2 minggu

b. Disuria

c. Meningkatnya frekuensi kencing

  1. Tanda

Adanya cairan dari uretra dimana tidak selalu menyerupai Gonore dan mungkin hanya pada pagi hari. Cairan menyerupai susu dan tidak purulen kondisi ini mungkin menyerupai Gonore yang tampak dari adanya disuria dan cairan purulen.

IV. Laboratorium

Harus dibedakan dengan uretritis Gonore dengan beberapa perbedaan gejala klinis yang dibuktikan dengan laboratorium.

V. Pengobatan

A. Tetrasiklin 500 mg 4 kali sehari selama 7 hari

B. Doxysiklin 0,1 gram 2 kali sehari selama 7 hari

C. Bila dari kultur terdapat Neisserria gonorrhaae berikan ceftiaxone 250 mg IM.

VI. Komplikasi

Pada umumnya tanpa komplikasi.

  1. Tanpa komplikasi
  2. Pada sebagian kecil pasien yang tidak ditemukan Gram Negatif Diplococcus pada saat dilakukan kultur ternyata positif.

VII. Konsultasi dan rujukan:

Apa bila terjadi kegagalan pengobatan dengan tetrasiklin

VIII. Tindak lanjut:

1. Kunjungan ulang/kontrol apabila tidak terjadi perbaikan

2. Kunjungan ulang apabila terdapat hasil kultur positif terhadap Neisseria Gonore





Tugas

  1. Pemeriksaan apa saja yang diperlukan untuk membedakan GO dan Non Go yang dapat dilakukan di puskesmas ?
  2. Bagaimana penanganan kasus tersebut di puskesmas ?
  3. Bagaimana menurut anda rasional ataukah tidak pengobatan tersebut ? Bagaimana hasilnya
  4. Bagaimana dampak pengobatan yang telah dilakukan selama ini ?



Latihan

  1. Jelaskan apa etiologi dari uretritis Non GO
  2. Kapan anda merujuk pasien dengan U NGO?
  3. Jelaskan apa saja tanda dan gejala penyakit UNGO
  4. Jelaskan apa komplikasinya ?

Tidak ada komentar: