Selasa, 08 April 2014

Materi Kuliah : Etika Profesi Kesehatan (By: H. Triyo Rachmadi, S.Kep.)


Etika Profesi Kesehatan


Membangun Jejaring Kerja Pelayanan Kesehatan di Kloter (Materi Fasilitator Haji) Oleh: H. Triyo Rachmadi, S.Kep.


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang     
Pelayanan terhadap jamaah haji merupakan kegiatan yang memerlukan seni dan ketrampilan tersendiri karena dilakukan dengan jumlah jamaah yang begitu banyak serta dalam waktu yang bersamaan dengan berada di negeri orang. Khusus bagi tenaga kesehatan yang tergabung dalam Tim Kesehatan Haji Indonesia memegang peranan yang sangat vital karena berurusan dengan keselamatan jiwa jamaah. Di sisi lain rasio jumlah tenaga kesehatan dan jumlah jamaah terlihat kurang memadai. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugasnya TKHI harus mampu memanfaatkan unsur-unsur jejaring kerja yang ada. Pemanfaatan unsur jejaring kerja ini dapat optimal jika petugas kesehatan dapat mengembangkan tim kerja dengan baik.
Pengembangan tim dalam jejaring kerja merupakan ketrampilan tersendiri yang harus dipersiapkan melalui pelatihan sebelum yang bersangkutan melaksanakan tugas. Dalam makalah ini akan diuraikan tentang konsep dasar tim efektif dalam jejaring kerja, komponen-komponen jejaring kerja dalam penyelenggaraan kesehatan haji di kloter, pengembangan tim efektif dalam jejaring kerja dan penyelesaian konflik dalam tim jejaring kerja secara win-win.

B.       Konsep Dasar Tim Efektif dalam Jejaring Kerja.
Pengertian tim dan kelompok sangatlah berbeda. Hal ini berdasarkan pendapat dari beberapa para ahli. Kurt Lewin berpendapat bahwa “The essence of a group is not the similarity or dissimility of its members but their interdepence”. Sementara W. H. Y. Sprott memberikan pengertian kelompok sebagai beberapa orang yang bergaul satu dengan yang lain. H. Smith menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi. Juni Pranoto berpendapat bahwa yang dinamakan kelompok adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang satu sama lain saling berinteraksi dalam mencapai tujuan bersama.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kelompok adalah suatu unit yang merupakan sekelompok/ sekumpulan dua orang atau lebih yang satu sama lain saling berinteraksi dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan secara bersama-sama dalam suatu wadah tertentu. Dari pengertian itu maka kelompok memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Keberadaannya memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi atau pekerjaan-pekerjaan yang mungkin saling berkaitan atau tidak berkaitan sama sekali.
2.      Orang-orang yang ditunjuk oleh organisasi yang bersangkutan untuk menjalankan peran resmi tertentu yang sudah dirinci misalnya sebagai Ketua Kloter, Dokter Kloter dan lain sebagainya.
3.      Memiliki struktur, hubungan tugas dan hirarkis yang telah digariskan secara jelas.
Dari beberapa kajian mendalam didapatkan kelompok belum tentu merupakan tim, tetapi tim pasti merupakan suatu kelompok. Ini berarti bahwa kelompok akan menikmati keberhasilan yang luar biasa jika menadi satu kesatuan yang lebih produktif yang disebut Tim yang membentuk jejaring kerja. Tim lebih merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki kebutuhan tertentu dalam jalinan jejaring kerja. Robert B. Meddux dalam Bukunya”Team Building” membedakan keduanya sebagai berikut:
Kelompok, cenderung memilki ciri-ciri yaitu:
1.      Anggota menganggap pengelompokan mereka semata-mata untuk kepentingan administratif. Individu bekerja secara mandiri kadang-kadang berbeda tujuan dengan individu yang lainnya walaupun berada dalam suatu jejaring kerja.
2.      Anggota cenderung memperhatian dirinya sendiri karena tidak dilibatkan dalam penetapan sasaran. Kadang-kadang pendekatannya hanya sebagai tenaga yang menerima bayaran untuk menjalankan salah satu fungsi yang terdapat dalam jejaring kerja.
3.      Anggota diperintah untuk mengerjakan pekerjaan, bukan diminta saran untuk mencapai sasaran yang terbaik dan anggota tidak didorong untuk ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan yang terjadi di jejaring kerja.
4.      Anggota tidak percaya pada motif rekan-rekan sekerjanya karena tidak memahami peran anggota lainnya walaupun mereka sama-sama dalam suatu jejaring kerja. Oleh karena itu menyatakan pendapat atau menyampaikan kritik dianggap sebagai upaya memecah belah karena kurangnya rasa toleransi dalam pelaksanaan tugas. Sehingga anggota terkadang berada dalam suatu konflik tanpa mengetahui sebab dan cara pemecahan masalahnya.
Sedangkan tim yang efektif merupakan sebuah kelompok denga ciri-ciri yang digambarkan sebagai berikut:
1.      Anggota menyadari ketergantungan doantara mereka dan memahami bahwa sasaran pribadi maupun Tim paling baik dicapai dengan cara saling mrndukung. Waktu akan sangat efektif karena masing-masing sangat memahami dan tidak mencari keuntungan di atas anggota tim yang lain;
2.      Anggota tim ikut merasa memiliki pekerjaan dan organisasinya karena memiliki komitmen terhadap sasaran yang akan dicapai. Oleh karena itu anggota memiliki kontribusi terhadap keberhasilan organisasi;
3.      Anggota bekerja dalam suasana saling percaya dan didorong untuk mengungkapkan ide, pendapat, ketidaksetujuan serta mencetuskan perasaan secara terbuka. Pertanyaan yang muncul akan disambut dengan baik sehingga anggota akan menjalankan komunikasi dengan tulus karena mereka akan memahami sudut pandang masing-masing;
4.      Para anggota didorong untuk menambah ketrampilan dan menerapkannya dalam tim. Mereka menrima dukungan penuh dari tim sehingga anggota akan berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi tim. Meskipun demikian mereka tetap menyadari bahwa keputusan tetap ditangan pemimpin apabia tim menemui jalan buntu;
5.      Mereka menyadari bahwa konflik dalam tim merupakan hal yang wajar karena konflik merupakan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan ide dan kreatifitas. Apabila terjadi suatu konflik akan diselesaikan secara konstruktif.

C.       Komponen-Komponen Jejaring Kerja Dalam Penyelenggaraan Kesehatan Haji di Kloter.
Tim Kesehatan Haji di Kloter merupakan bagian dari Tim Pelayanan haji secara keseluruhan yang secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
 














Kloter sebagai sebuah tim yang akan bertugas melayani jamaah haji dalam melaksanakan proses ibadah terdiri dari:
1.    TPHI (Tenaga Pembimbing Haji Indonesia)
    Tenaga ini direkrut oleh Kementerian Agama RI dengan tugas pokok melayani kebutuhan jamaah haji di kloter selama melaksanakan prosesi ibadah haji.
2.    TKHI (Tim Kesehatan Haji Indonesia)
    Tenaga ini terdiri dari dokter dan perawat yang direkrut oleh Kementerian Kesehatan RI dengan tugas memberikan pelayanan bidang kesehatan semenjak embarkasi hingga debarkasi.
3.    Karom (Ketua Rombongan)
    Tenaga ini diambil dari jamaah haji yang diperkirakan mampu menjadi pemimpin setiap 50 jamaah dalam melaksanakan prosesi ibadahnya.
4.    Karu (Ketua Regu)
     Tenaga ini diambil dari jamaah haji yang diperkirakan mampu menjadi pemimpin setiap 10 jamaah dalam melaksanakan prosesi ibadahnya yang dikoordinasikan dengan Karom.
Keberhasilan organisasi kloter ini sangat ditentukan oleh kerjasama di antara anggota tim kloter dan antara tim kloter dengan jejaring kerja pelayanan jamaah haji secara keseluruhan. Dalam tim kloter sebagai suatu kelompok harus memiliki keterikatan dan interaksi yang harmonis agar dapat memacu terjadinya perubahan, pertumbuhan dan perkembangan pribadi maupun tim sebagai organisasi. Keterikatan dan interaksi yang harmonis tersebut akan muncul dalam bentuk keterpaduan pola pikir (way of thinking), pola emosi dan motivasi (way of  feeling) dan pola tindak (way of action) (Prajudi Atmosoedirdjo: 1989).
Adanya keterpaduan pola pikir, pola emosi, motivasi dan persepsi serta pola tindak akan memudahkan terjadinya titik temu berbagai keinginan dan interest ke dalam tujuan bersam (common goal) yaitu terlayaninya kebutuhan jamaah akan rasa aman, nyaman dan  kesehatan secara optimal. Masalah paling rawan dalam organisasi tim kloter adalah apabila keinginan dan interest individu petugas dalam organisasi tim kloter saling menganggap dirinya yang paling berkuasa terhadap suatu persoalan yang muncul atau sebaliknya justru lepas tanggung jawab ketika terjadi permasalahan. Jika hal ini terjadi maka sebenarnya secara fakta petugas kloter hanyalah kumpulan beberapa orang yang masing-masing mempunyai otoritas untuk memepertahankan kekuasaannya. Dengan demikian tujuan diadakannya Tim Petugas pendamping kloter menjadi sia-sia belaka karena jamaah haji tidak akan mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya. Bahkan lebih jauh yang akan terjadi adalah tiada hari tanpa protes jamaah sebagi bentuk manifestasi rasa kekecewaannya terhadap pelayanan petugas dan hal ini sangat merugikan citra bersama. Untuk mengantisipasinya kejadian di atas ada baiknya kita menggunakan “tujuh resep habits” yang perlu dimiliki oleh individu yang ingin memiliki keefektifan yang tinggi dari Steven Covey (1997) yaitu: 1) pro aktif; 2) mendahulukan yang utama; 3) selalu memulai dengan tujuan akhir; 4) pendekatan menang-menang; 5) berusaha mengerti orang lain sebelum dimengerti oleh orang lain; 6) selalu menciptakan sinergi, keterpaduan dan kebersamaan serta; 7) selalu mengasah dan mengembangkan diri baik fisik, sosial maupun nilai-nilai. Dari ketujuh habits tersebut yang menonjolkan adanya tim adalah pendekatan menang-menang, mengerti orang lain dan selalu bersinergi.
Tidak ada manusia yang sempurna maka dari itu manusia perlu melaksanakan kegiatan bersama secara efektif sehingga pekerjaan akan berjalan dengan efektif. Oleh karena itu diperlukan sebuah tim yang efektif. 








BAB II
MEMBANGUN TIM EFEKTIF DALAM JEJARING KERJA



A.      Manfaat Membangun Tim Dinamis
Dalam membangun tim efektif yang ada dalam jejaring kerja dilakukan dengan cara: 1) memahami manfaat membangun tim dinamis; 2) membangun kebersamaan; dan 3) membangun kebanggan tim. Ada tim yang dapat mencapai suatu prestasi yang tinggi tetapi ada juga yang hanya bertahan beberapa hari saja. Untuk itu maka diperlukan suatu usaha bersama secara optimal untuk menciptakan tim yang dinamis. Tim dinamis adalah tim yang memiliki kinerja yang sangat tinggi dengan memanfaatkan segala energy yang ada dalam tim tersebut untuk menghasilkan sesuatu. Tim dinamis merupakan tim yang penuh dengan percaya diri  dengan para anggotanya yang menyadari kekuatan dan kelemahannya untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan bersama. Untuk mencapai tim dinamis seperti yang diuraikan tersebut maka sebaiknya setiap anggota hendaknya menyadari dan memahami tentang manfaat tim dinamis sebagai berikut:
1.    Beroperasi secara kreatif
     Dalam pelaksanaan kerja tim sangat kreatif dan dinamis dengan memperhitungakn resiko yang ada dan selalu mencoba cara berbeda dalam melakukan sesuatu. Mereka tidak takut menghadapi kegagalan-kegagalan dan selalu mencari-cari peluang untuk mengimplementasikan teknik yang baru.
2.     Memfokuskan pada hasil
Tim yang dinamis mampu menghasilkan melampaui kemampuan jumlah individu yang menjadi anggotanya. Para anggota tim secara terus menerus memenuhi komitmen waktu, anggaran, produktifitas dan mutu. “Produktifitas Optimum” merupakan tujuan bersama.

3.    Memperjelas peran dan tanggung jawab
Peran dan tanggung anggota tim jelas. Setiap anggota tim mengetahui dangan jelas apa yang diharapkan dari dirinya dan mengetahui peran temannya dalam tim. Tim yang dinamis selalu memperbaharui peran dan tanggung jawab anggotanya sesuai dengan perubahan tuntutan, sasaran dan teknologi.
4.    Diorganisasikan dengan baik
     Tim dinamis menjalankan fungsi-fungsi manajemen dengan baik, menetapkan prosedur secara jelas serta kebijakan dengan jelas. Tim juga menginventarisir jenis ketrampilan yang dimiliki oleh para anggota timnya.
5.    Dibangun di atas kekuatan individu
Kompetensi individu sangat diperhatikan sehingga pimpinan tim memahami betul kekuatan dan kelemahan anggota timnya. Pimpinan tim sangat memperhatikan bagaimana memberdayakan timnya sehingga dalam pemberdayaan disesuaikan dengan kompetensi masing-masing anggota tim.
6.    Saling mendukung kepemimpinan anggota yang lain
     Dalam tim yang dinamis kepemimpinan dibagi diantara para anggotanya. Dalam hal ini tidak ada pimpinan yang mutlak. Setiap anggota tim memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pimpinan tim manakala dibutuhkan.
7.    Mengembangkan iklim tim.
     Tim yang berkinerja tinggi memilii anggota yang secara antusias bekerja bersama dengan tingkat keterlibatan dan energi kelompok yang tinggi (bersinergi).
8.    Menyelesaikan ketidaksepakatan.
     Perbedaan persepsi  dan ketidak sepakatan akan terjadi dalam setiap tim. Tim dinamis menganggap bahwa konflik merupakan suatu wahana untuk pembelajaran hal-hal yang lebih positif. Segala konflik akan diselesaikan dengan pendekatan secara terbuka dengan teknik kolaborasi.
9.         Berkomunikasi secara terbuka.
       Pembicaraan secara “asersi  yaitu bicara yang lugas, jujur teapi tidak saling melukai pihak lain. Masing-masing anggota kelompok saling memberi dan menerima saran dari anggota kelompok yang lain. Komunikasi dilakukan secara timbal balik dan selalu berpikir untuk kepentingan bersama.
10.     Membuat keputusan secara obyektif
       Dalam pemecahan masalah menggunakan pendekatan yang proaktif. Keputusan dicapai melalui konsensus. Setiap anggota keompok bersedia dan mendukung keputusan tersebut. Anggota kelompok bebas mengutarakan pendapat dan ide-idenya serta mendukung rencana yang telah ditetapkan.
11.     Mengevaluasi efektifitasnya sendiri.
       Evaluasi dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan untuk melihat pelaksanaan rencana selam ini. Penyempurnaan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan manajemen proaktif. Apabila muncul masalah kinerja, mereka dapat segera memecahkannya sebelum berkembang menjadi permasalahan yang serius. 

B.       Membangun Kebersamaan Tim
Tahapan-tahapan dalam membangun tim yang dinamis akan berjalan dengan seksama apabila anggota-anggota tim mampu membangun rasa kebersamaan secara efektif. Untuk membangun rasa kebersamaan dalam suatu tim maka setiap anggota kelompok harus mampu untuk menerima keragaman anggota tim. Hal ini disebabkan setiap tim terdiri dari berbagai individu yang  memiliki latar belakang, perilaku dan pengalaman yang berbeda-beda. Tidak ada seorang manusiapun yang diciptakan sama persis termasuk orang yang kembar sekalipun. Oleh karena itu tim akan efektif apabila dibangun berdasarkan kebersamaan, tidak memandang pangkat, asal usul tenaga dan lain-lain sehingga menunjukkkan rasa saling percaya, saling menghargai yang dilandasi oleh keterbukaan. Karena itu dalam membangun rasa kebersamaan tim yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.      Berorientasi pada opini
a.       Orientasi utamanya adalah membangun opini bukan dogmatis dan tidak mengarahkan pada tindakan mengutuk orang lain.
b.      Memperkenalkan gagasannya tanpa mengusulkan atau bahkan mengisyaratkan agar orang lain memberi posisi istimewa pada gagasannya.
c.       Saling meminta ide dari anggota kelompok yang lain bahkan berorientasi pada gagasan perorangan.
d.      Tidak hanya memfokuskan pada idenya sendiri tetapi menginvestigasi pendapat orang lain.
2.      Berorientasi pada persamaan
a.       Anggota tim yang berorientasi pada persamaan melihat keragaman sebagai suatu keunggulan. Perbedaan yang dimiliki dapat dipakai untuk mengecek setiap sisi, sudut, puncak dan dasar suatu permasalahan.
b.      Mengandalkan pada kekuatan energi semua anggota.
c.       Kepercayaan kepada anggota tim akan meningkatkan produktifitas/ kerja.
3.      Berorientasi pada tujuan
a.       Anggota kelompok yang berorientasi pada tujuan kelompok kecil kemungkinan akan menimbulkan konflik. Hal ini disebabkan oleh adanya keunikan masing-masing kelompok.
b.      Keseluruhan anggota tim berorientasi pada tujuan yang sama.
c.       Anggota tim mengakui bahwa masing-masing anggota tim memiliki tujuan dan kemungkian tujuan tersebut bertentangan dengan tujuan tim.
d.      Keunikan anggota kelompok yang muncul sesegera mungkin diatasi, tidak dibiarkan sehingga melahirkan permasalahan baru.

4.      Membangun Kebanggaan Tim
Tim dinamis akan senantiasa mempertahankan prestasinya secara maksimal. Oleh karena itu mempertahankan rasa bangga sebagai tim sangat diharapkan. Ini berarti bahwa perlu ada suatu usaha untuk memotivasi tim secara efektif agar mampu membangun kebanggaan tim. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan tim agar anggota tim mampu membangun kebanggaannya adalah sebagai berikut:
a.       Memotivasi anggota tim untuk berkomitmen
Dalam memotivasi ini terlebih dahulu menentukan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi orang tersebut  termotivasi dengan baik. Tanpa mengetahui hal tersebut proyek besarpun belum tentu merupakan faktor stimulus. Setiap individu memiliki motif yang berbeda-beda, misalnya ada orang timbul harga dirinya dengan menghargai kinerjanya tetapi orang lain belum tentu demikian.
b.      Memotivasi anggota tim yang tidak termotivasi
Tidak setiap anggota tim memiliki motivasi yang sama. Ada anggota tim yang produktif, ada pula yang enggan berpartisipasi secara aktif. Untuk itu diperlukan beberapa strategi yang jitu. Strategi tersebut antara lain: 1) Dapatkan nasehat dari mereka; 2) Jadikan mereka guru; 3) Libatkan mereka dalam presentasi dan delegasikan kepada mereka untuk menyelesaikan suatu masalah.

C.       Menyelesaikan Konflik Dalam Tim Jejaring Kerja Secara Win-Win.
Dalam suatu tim yang berinteraksi satu sama lain dalam mencapai tujuannya selalu mengalami perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat yang berlarut-larut akan menyebabkan konflik. Anggota tim perlu memahami bahwa konflik atau ketidaksepakatan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan dan tidak memiliki sifat baik atau buruk (konflik bersifat netral).
Konflik akan menghancurkan kemajuan tim jika dibiarkan atau tidak dikelola dengan baik. Tetapi konflik juga dapat mengarah pada pengambilan keputusan yang baik jika dikelola secara efektif. Hasil dari suatu konflik sangat tergantung pada prosedur tim mengelolanya. Kata konflik menimbulkan kesan tidak menyenangkan. Reaksi kita pada umumnya adalah negative. Pada umumnya konflik merupakan bahaya dan menyakiti perasaan orang lain. Kita cenderung menghubungkan konflik dengan kekerasan, krisis, perkelahian, perang kalah, menang, kehilangan kendali dan lain sebagainya. Konflik selalu melibatkan dua orang atau lebih (perorangan atau kelompok) yang terjadi apabila salah satu pihak merasa kepentingannya dihalang-halangi atau akan dihalang-halangi. Selanjutnya Hanmer dan Hogan dalam bukunya “How to Manage Conflict” mengatakan bahwa yang dimaksud dengan konflik adalah segala macam bentuk pertikaian yang terjadi dalam organisasi baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok yang bersifat antagonis. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa konflik terkait dengan persepsi pihak yang bersangkutan yang merasa keentingannya dihalang-halangi atau akan dihalang-halangi, terlepas dari ada atau tidak ada halangan tersebut secara nyata. Apabila konflik ini kita biarkan maka akan menghancurkan kemajuan tim tetapi konflik juga dapat mengarahkan pada pengambilan keputusan yang baik bila dikelola dengan baik dan tepat. Hasil dari suatu konflik tergantung pada bagaimana mengelolanya. Untuk itu perlu dikenali isyarat-isyarat adanya konflik secara dini sebagai berikut:
1.    Anggota tim memberikan komentar dan saran dengan penuh emosi;
2.    Anggota tim menyerang gagasan orang lain sebelum gagasan tersebut dijelaskan secara tuntas;
3.    Anggota tim saling menuduh bahwa mereka tidak memahami masalah yang sebenarnya;
4.    Anggota tim selalu menolak untuk berkompromi;
5.    Anggota tim saling menyerang secara langsung pada pribadinya;
6.    Suasana yang terbangun mengarah pada tindakan bermusuhan:
a.    Anggota tim memasuki permainan menang kalah
b.    Mereka lebih senang memenangkan kemenangan pribadi daripada memecahkan masalah.
c.    Suasana yang ditonjolkan pihak yang sedang berkonflik masing-masing memegang teguh pada posisinya (I’m in my position) sehingga mempersempit celah komunikasi dan membatasi keterlibatan yang lain. Anggota tim tidak melihat perlunya mencapai tujuan yang menguntungkan mereka bersikukuh dan berdiri teguh pada posisinya.
Tidak setiap orang merespon terhadap konflik dengan cara yang sama, respon-respon tersebut antara lain: 1) Konfrontasi agresif; 2) Melakukan manuver negative; 3) Penundaan terus menerus; dan 4) Bertempur secara pasif.  Namun terkadang ada pula anggota tim yang meresponnya dari segi positif dan apabila hal ini yang terjadi maka pemecahan konflik mengarah ke hal yang positif. Dengan demikian konflik diarahkan dengan menggunakan energi secara sehat dan langsung untuk memecahkan masalah dengan kata lain tidak ada reaksi secara emosional, melakukan upaya dengan menanggapinya secara rasional. Respon yang tepat ini akan memperkuat tim kerja dan melancarkan jalan untuk mengatasi konflik. Menurut  Bolton dalam bukunya “Manajemen Konflik” sumber-sumber konflik adalah sebagai berikut:
1.    Menghalangi pencapaian sasaran perorangan;
2.    Kehilangan status;
3.    Kehilangan otonomi atau kekuasaan;
4.    Kehilangan sumber-sumber;
5.    Merasa diperlakuakn tidak adil;
6.    Mengancam nilai dan norma;
7.    Perbedaan persepsi;
8.    dan lain sebagainya.







BAB III
PENYELESAIAN KONFLIK



A.    Langkah-Langkah Menyelesaikan konflik
Berikut ini digambarkan langkah-langkah dalam menyelesaikan setiap konflik.














Mengakui adanya konflik yang sedang berkembang
 

Mengidentifikasi konflik yang sebenarnya
 








Dikaji bersama untuk mencari penyelesaian
 

Mendengarkan dengan serius dari berbagai sudut pandang
 




 















Jadwalkan sesi khusus untuk menyelesaikannya
 
 




Langkah 1: Mengakui adanya konflik
Langkah ini merupakan langkah awal untuk menyelesaikan konflik. Tanpa adan yang mengakui adanya suatu konflik maka masalah tidak akan terpecahkan. Tim yang dinamis akan membahas konflik secara dini karena kearifan dari semua pihak sangat diperlukan.

Langkah 2: Mengidentifikasi konflik secara benar
Dalam kegiatan penelitian, langkah ini sering diseut dengan identifikasi masalah. Kegiatan ini sangat diperlukan dan memerlukan keahlian khusus. Konflik dapat muncul dari akar masalah tetapi juga karena maslah emosi. Oleh karena itu perlu memilah antara masalah inti dengan masalah emosional. Masalah inti adalah masalah yang mendasari suatu konflik (misalnya ketidaksepakatan adanya tugas) sedangkan isu emosional merupakan masalah yang memeperumit masalah tersebut, misalnya salah satu anggota tim mendapat tugasyang sangat penting (masalah inti), orang lain merasa tersinggung (masalah emosional). Untuk hal ini, maka hendaknya kita mengatasi maslah yang inti terlebih dahulu.

Langkah 3: Dengar semua pendapat
Lakukan kegiatan sumbang saran. Libatkan mereka yang terlibat dalam konflik untuk mengungkapkan pendapatnya. Hindarilah pendapat benar dan salah. Bahas juga mengenai dampak konflik terhadap tim serta kinerja tim. Fokuskan pembicaraan pada fakta dan perilaku bukan pada perasaan atau unsur pribadi. Hindari mencari-cari kesalahan orang lain tetapi temukan mana yang terbaik jika dipandang dari sisi positif.

Langkah 4: Bersama-sama mencari cara menyelesaikan konflik
Dalam kegiatan ini dilakukan melalui diskusi terbuka sangat diharapkan. Karena dengan diskusi terbuka dapat memperluas informasi dan alternatif serta dapat mengarahkan pada rasa percaya dan hubungan yang sehat di antara yang terlibat konflik. Dalam tim yang efektif tidak seluruh anggota kelompok menyukai satu sama lain tetapi yang utama adalah mampu bekerjasama secara efektif.

Langkah 5: Mendapatkan kesepakatan dan tanggung jawab untuk menemukan solusi.
Memaksakan kesepakatan akan berakibat fatal. Oleh karena itu doronglah mereka untuk bekerjasama memecahkan permasalahan secara jitu. Nuatlah semua anggota tim merasa senang terhadap solusi yang dihasilkan. Solusi harus diusahakan secara bersama-sama. Salah satu cara yang disarankan agar orang lain menerima saran yang diajukan adalah memposisikan dirinya pada peran orang lain. Dengan kata lain, setiap anggota mempresentasikan pendapat orang lain.

Langkah 6: Menjadwal sesi tindak lanjut untuk mengkaji solusi.
Pemberian tanggung jawab untuk melaksanakan komitmen sangat dihargai oleh anggota tim. Mengkaji resolusi sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat keefektifan resolusi yang telah diberikan.

B.     Gaya Tanggapan Seseorang Terhadap Konflik
Apabila konflik dihindarai maka akan berdampak terhadap keefektifan suatu tim sehingga produktifitas tim akan menurun. Sebaliknya konflik akan menjadi sehat apabila pihak-pihak yang terlibat mau menjajaki ide-ide baru, menguji posisi dan keyakinan mereka serta memperluas wawasan imajinasi mereka. Konflik yang ditangani secara konstruktif akan merangsang anggota tim lebih kreatif sehingga akan memperoleh hasil yang terbaik. Oleh karena itu setiap anggota tim dalam menghadapi suatu konflik menurut Robert B. Meddux dalam bukaunya “Team Building” mengklasifikasikan ke dalam 5 (lima) gaya tanggapan sebagai berikut:











GAYA
CIRI PERILAKU
ALASAN PENYESUAIAN
Menghindar
-        Tidak mau berkonfrontasi
-        Mengabaikan atau melewatkan pokok permasalahan.
-        Menyangkal bahwa hal tersebut merupakan masalah.
- Perbedaan yang ada terlalu kecil atau terlalu besar untuk diselesaikan.
- Usaha penyelesaian mungkin mengakibatkan rusaknya hubungan atau justru menciptakan masalah yang lebih kompleks.

Mengakomodasi
-       Bersikap menyetujui dan tidak agresif
-        Kooperatif bahkan terkadang dengan mengorbankan keinginan pribadi
Tidak sepadan reikonya, jika mengambil resiko justru akan merusak hubungan dan menimbulkan ketidakselarasan secara keseluruhan.
Menang/ kalah
-       Konfrontatif, menuntut dan agresif
-       Harus menang dengan cara apapun
-       Yang kuat menang
-       Harus membuktikan superioritas
-       Paling benar secara etis dan profesi
Kompromi
-       Mementingkan pencapaian sasaran utama semua pihak serta memelihara hubungan baik.
-       Agresif namum kooperatif
-       Tidak ada ide perorangan yang sempurna
-       Seharusnya ada lebih dari satu cara yang baik dalam melakukan sesuatu.
-       Anda harus berkorban untuk dapat menerima
Penyelesaian masalah (kolaborasi win-win)
-       Kebutuhan kedua belah pihak adalah sah dan penting
-       Penghargaan yang tinggi terhadap sikap saling mendukung
-       Tegas dan kooperatif
Jika pihak-pihak yang terlibat mau membicarakan secara terbuka pokok permasalahannya, biasanya solusi yang saling menguntungkan dapat ditemukan tanpa satu pihakpun merasa dirugikan
Gaya Tanggapan Seseorang Terhadap Konflik

BAB III
PENUTUP



A.      Kesimpulan
Pengembangan tim dalam jejaring kerja merupakan ketrampilan tersendiri yang harus dipersiapkan oleh Tim Kesehatan Haji Indonesia sebelum melaksanakan tugas. Tim Kesehatan Haji Indonesia memegang peranan yang sangat vital karena berurusan dengan keselamatan jiwa jamaah. Dalam melaksanakan tugas TKHI diharapkan menjadi tim yang efektif, selalu bersikap jujur, terbuka dan dapat menyelesaikan setiap konflik sesegera mungkin. Konflik dalam setiap tim selalu ada sehingga diperlukan penyelesaian yang professional tanpa mempengaruhi kinerja dalam melaksanakan tugas.  Tim tidak bekerja sendiri tetapi membentuk jejaring dengan tim-tim yang lain untuk dapat mengembangkanp pelayanan yang optimal sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
B.       Saran
Dalam penyelenggaraan kesehatan haji telah dibentuk tim kesehatan yang disebut Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sehingga dalam memberikan pelayanan kepada jamaah haji akan bertindak sebagai tim. TKHI  dalam melaksanakan tugasnya diharapkan tidak hanya membawa nama baik tim kloternya tetapi mmbawa nama baik bangsa dan Negara Indonesia. Jalinan komunikasi yang efektif dan rutin kepada sesama anggota tim dan kepada seluruh jamaah haji akan dapat meminimalisir suatu konflik yang terjadi. Sebagai tim sebelum dan setelah melaksanakan tugas selalu berpegang teguh kepada visi dan misi yang dijalankan sehingga dalam bekerja selalu dalam koridor rel yang telah direncanakan. Semoga TKHI akan selalu menjadi tim yang efektif di masa-masa yang akan datang. Amiiiin.
DAFTAR PUSTAKA


Kementerian Kesehatan RI, 2011, Modul Pelatihan Jabatan Fungsional Perawat Jenjang Ahli Pertama, Jakarta, Kementerian Kesehatan RI-Badan PPSDM Kesehatan Pusdiklat Aparatur.
Kementerian Agama RI Direktorat Jenderal Penyelenggaraan haji dan Umrah Tahun 1433/ 2012 M, 2012, Kebijakan Penyelenggaraan Ibadah Haji,  Jakarta, Kementerian Agama RI.
Kementerian Agama RI, 2012, Modul Pembekalan Operasional Kesehatan Haji, Bahan Ajar Pelatihan Petugas Haji Tahun 1433 H/ 2012 M, Jakarta, Kementerian Agama RI, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah.
Kementerian Kesehatan RI, 2012, Bahan Bacaan Peserta Pelatihan Tim Kesehatan Haji Indonesia, Jakarta, Kementerian Kesehatan RI.